span 1 span 2 span 2

Inspirasi

Nila Moeloek: Menggapai Cita-Cita Bekerja di Dunia Kesehatan
Oleh : Ardito Ramadhan
08 Mei 2018

Highlight

Ayah saya merupakan idola saya.

nila moeloek
Nila Djuwita F. Moeloek adalah Menteri Kesehatan yang mempunyai segudang pedalaman di bidang medis dan kesehatan.
Sumber: wordpress.com

Ia merupakan seorang dokter spesialis mata yang aktif mengajar di almamaternya. Pengalamannya di dunia kesehatan membuatnya sempat hampir dilantik menjadi Menteri Kesehatan pada 2009. Sayang, hal itu batal terjadi di menit-menit akhir. Butuh waktu lima tahun agar ia resmi memangku jabatan tersebut. Simak kisah inspiratif Nila Moeloek bersama Kinibisa!



"Kalau dari kecil kita harus punya cita-cita. Kita harus punya mimpi dulu. Kalau kita sudah punya mimpi, kita berjuang untuk meraih mimpi tersebut. Misalnya, kita mau jadi dokter, kita harus belajar dong."

Besar di Keluarga Dokter
 

Nila Moeloek dilahirkan dengan nama lengkap Nila Djuwita. Sementara, nama ‘Moeloek’ yang melekat pada namanya berasal dari nama sang suami, Farid Anfasa Moeloek. Nila lahir di Jakarta pada 11 April 1949. Ia merupakan anak dari pasangan asal Minangkabau yang tengah merantau di ibukota.

Ketertarikan Nila terhadap dunia kesehatan agaknya timbul dari pengaruh orangtuanya. Seperti Nila, orangtua Nila juga menekuni profesi di bidang kesehatan. Nila menyebut ayahnya merupakan seorang dokter yang disiplin dan rajin membaca. Ia juga mengakui ayahnya merupakan sosok yang membuatnya terinspirasi untuk menjadi dokter.  

“Saya melihat bapak saya itu menjadi seorang dokter yang orangnya itu sangat disiplin. Bapak saya sangat senang membaca, bukunya tebal-tebal sekali. Akhirnya saya bermimpi menjadi seperti Ayah saya. Ayah saya merupakan idola saya,” kata Nila kepada Media Indonesia[1]

Di samping ayahnya yang merupakan dokter, ibu Nila juga berprofesi sebagai seorang perawat. Oleh sebab itu, tak heran apabila Nila bercita-cita berprofesi di dunia kesehatan sejak kecil. “Dari dulu saya ingin menjadi dokter. Idola saya bapak saya, sedangkan Ibu saya seorang perawat. Jadi dunia kami memang dunia kesehatan,” katanya.

tertarik dengan dunia kesehatan
Nila sudah mempunyai ketertarikan dengan dunia kesehatan sejak kecil.
Sumber: research.fk.ui.ac.id

Namun, Nila tak mau sekadar mengikuti jejak orangtuanya. Ia bertekad menjadi dokter yang lebih hebat dari ayahnya, setidaknya dari segi tingkat pendidikan. “Ayah saya menjadi profesor dan guru besar pada 1992. Kalau Ayah saya profesor, setidaknya kita juga harus sama. Lalu saya naik S-2 dan S-3, menjadi doktor, baru bisa menjadi guru besar,” kata Nila.

baca juga: kisah inspiratif Pranomo Anung

Demi mewujudkan cita-citanya tersebut, Nila menuturkan perjuangannya tak main-main. Untuk berkuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, ia harus bersaing dengan ribuan orang lainnya untuk merebut 150 kursi yang disediakan. Ketika sudah berhasil masuk pun Nila mesti bertemu mahasiswa dan mahasiswi yang mempunyai kecerdasan di atas rata-rata.

Berbicara mengenai cita-cita, Nila mengatakan setiap anak Indonesia harus memiliki cita-cita yang ingin diraih. Menurutnya, cita-cita dapat menjadi motivasi bagi seorang anak untuk belajar dan berjuang. “Kalau dari kecil kita harus punya cita-cita. Kita harus punya mimpi dulu. Kalau kita sudah punya mimpi, kita berjuang untuk meraih mimpi tersebut. Misalnya, kita mau jadi dokter, kita harus belajar dong,” katanya.

Spesialis Mata
 

spesialis mata
Nila melanjutkan pendidikan untuk menjadi dokter spesialis mata.
Sumber: tabloidpendidikan.com

Ketika berkuliah di UI, Nila mempunyai tekad menjadi dokter spesialis mata. Alasannya sederhana, ia ingin menjadi dokter yang memegang pisau. “Saya memilih menjadi dokter spesialis mata karena saya ingin dokter itu tetap pegang pisau, kalau spesialis mata, pisaunya kecil, jadinya enak, kan,” kata Nila.

Setelah lulus dari UI, ia melanjutkan pendidikan spesialis mata serta mengikuti serta mengikuti program sub-spesialis di International Fellowship di Orbita Centre, University of Amsterdam, Belanda dan Kobe University, Jepang. Selanjutnya, ia mengambil pendidikan kekhususan Onkologi Mata dan Program Doktor Pascasarjana di FKUI.

Karier Nila sebagai dokter banyak dihabiskan di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta. Di rumah sakit yang berstatus Rumah Sakit Umum Pusat Nasional itu, Nila bertugas sebagai dokter spesialis mata. Selain di RSCM, ia juga berpraktik di Klinik Mata Talang yang beralamat tak jauh dari RSCM.

Di samping kesibukkannya sebagai dokter, Nila juga aktif mengajar di almamaternya. Sejak 1980, Nila tercatat telah menjadi dosen di FKUI. Ia pun rajin menulis berbagai judul jurnal kedokteran dalam dan luar negeri. Oleh sebab itu, Nila dinilai sebagai motor penelitian di lingkungan FKUI.

Berkat pengabdiannya tersebut, ia mempunyai jasa penting dalam mengangkat peringkat UI di mata dunia dalam Higher Education-World University Ranking pada tahun 2009. Berdasarkan ranking itu, UI menempati posisi terbaik bila dibandingkan kampus-kampus dalam negeri lainnya.

Selain itu, Nila juga rajin mengikuti berbagai kegiatan sosial dan organisasi. Ia aktif di Ikatan Dokter Indonesia dan Persatuan Dokter Mata Indonesia. Nila juga tercatat pernah memimpin sejumlah organisasi yaitu Dharma Wanita Persatuan Pusat, Persatuan Dokter Mata Indonesia, dan Yayasan Kedokteran Indonesia.

Aktivitas Nila dalam berbagai organisasi agaknya tak bisa dilepaskan dari sosok suaminya. Suami Nila, Farid Anfasa Moeloek, adalah seorang dokter yang sempat menjadi Menteri Kesehatan pada akhir dekade 1990-an. Seperti Nila, keluarga Farid juga mempunyai latar belakang kedokteran yang kuat. Tak heran, keluarga Moeloek disebut sebagai salah satu dinasti dokter tersukses di Indonesia.

Menteri Kesehatan
 

menteri kesehatan
Nila diangkat menjadi Menteri Kesehatan pada 2014.
Sumber: wp.com

Segudang pengalaman yang dimiliki Nila membuat namanya diprediksi akan menjadi Menteri Kesehatan Indonesia. Prediksi ini hampir menjadi kenyataan pada 2009. Saat itu, ia dipanggil oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang tengah menyeleksi para calon menteri.

Tak hanya menemui SBY di kediamannya di Cikeas, Nila juga mengikuti serangkaian tes medis yang diwajibkan bagi para calon menteri. Namun, agaknya SBY berubah pikiran di menit-menit akhir. Ketika mengumumkan anggota kabinetnya, tak ada nama Nila Moeloek sebagai Menteri Kesehatan. Alih-alih Nila, pos Menteri Kesehatan diisi oleh Endang Rahayu Sedyaningsih.

Keputusan tersebut rupanya tak membuat Nila berkecil hati. SBY sendiri mempunyai rencana lain bagi Nila. Di tahun yang sama, SBY mengangkat Nila menjadi Utusan Khusus Presiden Republik Indonesia untuk Millenium Development Goals. Dalam jabatan ini, Nila bertugas untuk menekan angka kematian ibu dan anak serta menurunkan kasus HIV/AIDS.

Lima tahun berlalu, pemegang tongkat pemerintahan ikut berganti. Pada 2014, Joko Widodo terpilih menjadi Presiden RI menggantikan SBY yang telah menjabat selama dua periode. Beberapa nama tokoh pun mulai didengungkan akan masuk ke dalam susunan kabinet, tak terkecuali nama Nila yang disebut akan mengisi pos Menteri Kesehatan.

Prediksi tersebut agaknya menjadi kenyataan. Pada akhir Oktober 2014, Presiden Jokowi mengumumkan bahwa Nila Moeloek adalah Menteri Kesehatan di Kabinet Kerja yang ia pimpin. Menurut Jokowi, Nila terpilih karena pengalamannya di bidang kesehatan. “Dokter senior yang sangat berpengalaman. Utusan khusus Indonesia untuk MDGs,” kata Jokowi saat mengumumkan kabinet.[2]

Menjadi seorang menteri, Nila tentu dibebani berbagai program yang harus dilaksanakan. Sesaat setelah namanya diumumkan, Nila menyebut akan berupaya mengedepankan pencegahan penyakit. “Sebenarnya kesehatan itu bagaimana menjaga kesehatan. Pencegahan penyakit lebih baik, karena kuratif (pengobatan) akan memakan biaya besar,” kata Nila kepada Kompas.com.[3]

Di samping itu, Nila menyebut tantangan terbesarnya adalah pemerataan tenaga kesehatan di seluruh Indonesia. “Maldistribusi menjadi masalah bagi pemerataan tenaga kesehatan di Indonesia. Artinya, daerah yang agak ke Timur, nggak begitu banyak dokter yang mau ditempatkan di sini. Ini yang jadi prioritas kami untuk memeratakan tenaga kesehatan sampai ke seluruh Indonesia termasuk daerah terpencil, kepulauan dan perbatasan,” kata Nila kepada Suara.[4]

Untuk itu, di usia yang telah menginjak angka 65 tahun ia tetap rajin mengunjungi tempat-tempat terpencil untuk memastikan pelayanan kesehatan berjalan optimal. Nila menuturkan konsumsi jamu adalah resep rahasianya agar tetap bugar dalam menjalani aktivitas. “Saya senang minum jamu. Saya sudah merasakan manfaat dari minuman jamu tradisional ini. Menyehatkan,” katanya.

baca juga: kisah inspiratif Grace Tahir

Nila menambahkan jamu juga mempunyai nilai-nilai di luar ramuannya yang bermanfaat bagi manusia. “Jamu juga merupakan warisan budaya Nusantara yang maknanya tidak hanya terletak pada bentuk ramuannya saja, melainkan juga falsafah yang ada di balik ramuan tersebut dan aspek spiritual yang sering menyertainya,” kata Nila.

Kisah Nila Moeloek agaknya dapat menjadi inspirasi untuk terus menekuni pendidikan atau pekerjaan yang sedang dilalui. Nila juga dapat menjadi contoh bagaimana sebuah cita-cita dapat menjadi motivasi untuk belajar dan bermanfaat bagi masyarakat. Simak kisah tokoh-tokoh inspiratif lainnya bersama Kinibisa!


[1] http://www.mediaindonesia.com/news/read/9847/pisau-kecil-ibu-dokter-nila/2015-12-20
[2] https://www.youtube.com/watch?v=yRTIWrqV6as&t=577s
[3] http://lifestyle.kompas.com/read/2014/10/27/070517123/Menkes.Nila.Moeloek.Ingin.Fokus.pada.Pencegahan.Penyakit
[4] https://www.suara.com/wawancara/2017/05/08/070000/nila-f-moeloek-pusing-hadapi-masalah-kesehatan-di-indonesia