span 1 span 2 span 2

Inspirasi

Paulus Wirutomo: “Menabuh” Pembangunan Sosial Indonesia
Oleh : Nanda Aulia Rachman
08 Mei 2018

Highlight

Mestinya orang sosial budaya yang punya ilmu untuk pembangunan sosial bisa menyumbangkan pengetahuannya.

paulus
Prof Dr. Paulus Wirutomo M.Sc, merupakan seorang akademisi di bidang sosiologi yang juga seorang musisi yang membuat band bersama rekan-rekan akademisi lainnya.
Sumber: binaswadaya.org

Ia merupakan sosiolog dan akademisi dari Universitas Indonesia. Di samping kesibukannya sebagai seorang dosen, ia juga dikenal sebagai seorang musisi jazz. Bersama ketiga rekannya yang sama-sama akademisi, ia mendirikan sebuah band yang dinamakan The Professor. Simak kisah inpiratif Paulus Wirutomo bersama Kinibisa!



"Banyak bibit kreatif sumber daya manusia yang telah dimatikan oleh kebijakan nasional yang tidak berpihak pada usaha kreatif. Padahal, usaha kreatif ini mampu memberikan sumbangan yang sangat besar bagi kemajuan bangsa."

Prof Dr. Paulus Wirutomo M.Sc lahir di Solo, 29 Mei 1949. Ia menamatkan pendidikan sarjananya di program studi sosiologi di Universitas Indonesia pada tahun 1976. Selanjutnya ia mendapatkan gelar master di bidang Perencanaan Sosial di University College of Swansea, Wales pada tahun 1978. Paulus meneruskan studi doktornya di bidang Sosiologi Pendidikan dari State University of New York at Albany, Amerika Serikat pada tahun 1986,

Ia pernah menjabat sebagai Ketua Departemen Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia (FISIP UI) pada tahun 2005 hingga tahun 2009. Paulus juga sempat menjadi Ketua Program Magister Manajemen Pembangunan Sosial Pascasarjana UI dari tahun 1997. Profesor yang fokus pada bidang sosiologi pendidikan dan pembangunan sosial ini sudah menelurkan banyak publikasi ilmiah.

bersama keluarga
Paulus bersama keluarga.
Sumber: bp.blogspot.com

Pembangunan Sosial
 

paulus wirotomo
Paulus Wirutomo.
Sumber: beritajakarta.com

Guru besar FISIP UI ini mempunyai perhatian khusus terhadap pembangunan sosial. Menurutnya, pembangunan sosial seringkali merujuk pada pembangunan sektor danhanya dianggap sebagai sebuah aksi sosial (charity) saja.

“Mengikuti logika pembangunan sosial sebagai sektor, maka pembangunan sosial ini membutuhkan masukan berupa penyediaan anggaran, perlu pembiayaan. Dan mengikuti pemahaman pembangunan sosial sebagai charity, maka pembangunan sosial itu dianggap sebagai sebuah langkah yang tidak menghasilkan apa pun. Atau paling tidak output-nya dinyatakan tidak menghasilkan uang,” jelasnya dikutip dari Tokoh Indonesia (25/02/2012)

Menurutnya pembagunan sosial tidak mesti melulu soal pembangunan sektor infrastruktur tetapi juga pembangunan pendidikan, kesehatan dan agama. Pembangunan ini seringkali dianggap tak berdaya guna karena tak menghasilkan uang. Sejatinya, peningkatan kualitas sumber daya manusia lah yang akan menjadi hasil akhir dari pembangunan ini dalam jangka panjang. Nantinya, diharapkan kualitas hubungan sosial akan ikut terdorong beriringan dengan ini.

Paulus sendiri bahkan mengakui dirinya dan Departemen Sosiologi UI telah berusaha meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat dengan membuka program studi manajemen pembangunan sosial. Adhyaksa Daut dan Suryadharma Ali adalah beberapa orang yang pernah menempuh studi ini

“Dulu kita membuka program manajemen pembangunan sosial ini karena kita di UI merasakan kok Sosiologi sebagai ilmu enggak punya sesuatu yang berguna bagi masyarakat. Kami membuat program lanjutan S2, terutama pada pekerja sosial, pembangunan sosial, LSM, dan Bappeda. Ketika itu, kami melihat tenaga Bappeda yang ada, SDM-nya seadanya. Ada yang diambil dengan latar belakang ekonomi, hukum, pertanian, ataupun pakar teknik,” katanya.

“Mestinya orang sosial budaya yang punya ilmu untuk pembangunan sosial bisa menyumbangkan pengetahuannya. Dengan membuka program manajemen pembangunan sosial ini diharapkan akan lahir kader manusia Indonesia yang memahami pembangunan sosial dan punya sumbangan besar bagi pembangunan bangsa," jelasnya dikutip dari Tokoh Indonesia (25/02/2012)

Perkembangan pembangunan sosial masih menunjukkan hasil yang mengecewakan walaupun program studi ini sudah dibuka selama lebih dari 10 tahun. Menurutnya masyarakat Indonesia masih belum memahami inti dari pembangunan sosial, yakni kualitas dari interaksi sosial. Interaksi sosial yang terlihat secara kasat mata sehari-hari sebenarnya mempunyai pemahaman konteks hubungan sosial yang lebih mendalam, menurutnya.

“Banyak bibit kreatif sumber daya manusia yang telah dimatikan oleh kebijakan nasional yang tidak berpihak pada usaha kreatif. Padahal, usaha kreatif ini mampu memberikan sumbangan yang sangat besar bagi kemajuan bangsa,” ungkap Paulus dikutip dari Tokoh Indonesia (25/02/2012)

Menabuh dan Menyanyi di Waktu Senggang
 

band
The Professor Band.
Sumber: wordpress.com

Selain sibuk mengajar dan menjadi pengamat sosiolog, ia juga mempunyai hobi bermain musik. Bersama dengan rekan lainnya, ia membuat Professor Band. Kelompok musik ini bisa terbilang unik karena seluruh personilnya merupakan guru besar dari berbagai fakultas dan bidang di Universitas Indonesia.

Paulus sendiri berposisi sebagai penabuh drum di kelompok musik yang didirikan secara tidak sengaja pada tahun 2002 ini. Sesekali mereka bermain lagu lawas di waktu senggang mereka. Bahkan Paulus dan bandnya pernah beberapa kali tampil di televisi dan membuat rekaman studio.

Band yang beraliran musik jazz ini juga masuk ke dalam rekor MURI, sebagai pemegang rekor band dengan anggota professor terbanyak. Berbagai konser musik telah mereka sambangi mulai dari Jazz Goes To Campus Universitas Indonesia (JGTC UI) sampai menjadi langganan di Java Jazz Festival dan Jakarta Jazz Festival. Latar belakang dan kemampuan mereka yang tidak merata pada awalnya dapat diatasi dengan latihan rutin tiap minggunya dan memanggil Harry Wisnu, sebagai pelatih musik mereka.

baca juga: kisah inspirasi Julian Aldrin

The Professor Band hingga hari ini telah merilis dua album yang masing-masing terdiri dari kumpulan lagu Indonesia dan Barat serta lagu-lagu lawas ciptaan komponis legendaris Indonesia seperti Ismail Marzuki. Sayangnya, album ini tidak dijual kepada publik, hanya kepada kalangan kerabat dan lingkungan Universitas Indonesia.

album
The Profesor band saat mengambil gambar album di halaman rektorat Universitas Indonesia.
Sumber: ytimg.com

 

Kisah Paulus Wirutomo di atas tentu menyadarkan kita betapa pentingnya pembangunan sosial demi masa depan Indonesia. Di samping itu, sosok Paulus agaknya bisa menjadi inspirasi bagi kita untuk mampu hidup seimbang antara pekerjaan dan hobi seperti Paulus yang seorang akademisi sekaligus musisi. Simak kisah tokoh inspiratif lainnya bersama Kinibisa!