span 1 span 2 span 2

Inspirasi

Julian Aldrin Pasha: Akademisi jadi Juru Bicara RI-1
Oleh : Nanda Aulia Rachman
05 Mei 2018

Highlight

Perjalanan hidup ini adalah benar-benar pilihan saya. Dunia yang saya inginkan. Bukan karena tak ada pilihan.

Julian Aldrin Pasha
Seorang akademisi ilmu politik yang sempat menjadi Juru Bicara Kepresidenen Kabinet Indonesia Bersatu Jilid II.
Sumber: banananina.co.id

Menyelaraskan peran sebagai akademisi dan pejabat publik bukanlah hal yang mudah. Sifat kritis dalam berkomentar harus diredakan ketika seseorang didapuk menjadi tangan kanan presiden. Siapakah yang Kinibisa bicarakan? Ya, dia adalah Julian Aldrin Pasha, akademisi yang sempat menjadi juru bicara kepresidenan Indonesia. Simak kisah inspiratifnya bersama Kinibisa!



"Ketertarikannya terhadap Ilmu Politik juga berangkat dari ketertarikannya terhadap sosok-sosok dan persona masing-masing kepala negara. Terutama Ronald Reagan."

Drs. Julian Aldrin Pasha, M.A., Ph.D lahir di Bandar Lampung, 22 Juli 1969. Ia merupakan seorang akademisi dan politisi. Pada masa pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) periode kedua, beliau dipercayai untuk menduduki jabatan sebagai Juru Bicara Kepresidenan Republik Indonesia dari tahun 2009-2014, menggantikan Andi Malaranggeng. Topik-topik yang Julian kuasai di antara lain adalah studi Asia Timur yang berfokus pada politik Jepang, kebijakan publik, ekonomi politik serta studi perkembangan politik Indonesia.

Sisi Lain Julian
 

Lelaki asal Teluk Betung ini merupakan anak kedua dari tiga bersaudara. Mempunyai orang tua seorang akademisi membentuk kepribadian Julian yang mencintai buku. “Papi lebih suka membeli buku dengan uang sendiri ketimbang membeli setelan jas. Saya pernah melihat ada keributan kecil dengan Bunda karena cicilan buku belum selesai, sudah ada cicilan buku lainnya,” ujar Julian dikutip dari tulisan Rustika Herlambang di blognya (02/10/2011).

lahir dari keluarga akademisi
Julian lahir dari keluarga yang berlatar belakang akademisi.
Sumber: okeinfo.net

Banyak waktu yang dihabiskan Julian kecil untuk membaca buku. Rasa keingintahuan yang besar membuat Julian betah membolak-balik halaman berbagai buku selama berjam-jam. Perpustakaan milik ayahnya menjadi surga kecil bagi dahaganya akan pengetahuan. Ensiklopedi Britannica dan Americana menjadi buku favoritnya saat itu.

“Saya menikmati ketika membaca dua seri buku tersebut karena di dalamnya ada tokoh para pemimpin dunia, gambaran tentang negara, serta pemerintahannya,” kata Julian dikutip dari tulisan blog pribadi Rustika Herlambang (02/10/2011).

Ketertarikannya terhadap Ilmu Politik juga berangkat dari ketertarikannya terhadap sosok-sosok dan persona masing-masing kepala negara. Terutama Ronald Reagan. Ia bahkan sempat menyurati presiden Amerika Serikat ke-40 itu.

baca juga: kisah inspiratif Ignasius Jonan

“Dia seorang aktor, lalu menjadi gubernur, dan akhirnya terpilih menjadi Presiden. Saya kagum dan tertarik dengan perjuangan dan strateginya mencapai puncak kekuasaan,” jelasnya dikutip dari blog pribadi Rustika Herlambang (02/10/2011).

Ketika ditanya soal hobinya yang lain, Julian mungkin akan menjawab “mendengarkan musik klasik”. Salah satu hal yang tak pernah dilewatkan oleh Julian muda adalah menonton konser musik klasik yang disiarkan TVRI. Keawaman Julian akan sejarah semakin membuat ia jatuh cinta kepada aliran musik yang satu ini.

“Saya bisa dengan detail membayangkan ketika Don Giovanni dimainkan. Atau membayangkan abad pertengahan ketika karya itu diciptakan,” ujarnya dikutip dari tulisan Rustika Herlambang (02/10/2011). Seraya dengan musik klasik, Julian juga mencintai sastra klasik. Nikolai Gogol, Anton Chekhov, atau Edgar Allan Poe, diakuinya sebagai beberapa penulis klasik favoritnya.

Perjalanan sebagai Akademisi
 

saat menjadi jubir
Julian Aldrin Pasha ketika bertugas sebagai Juru Bicara Kepresidenan.
Sumber: tmpo.co

Julian dikenal oleh rekan-rekannya sebagai seseorang yang cermat, rajin dan disiplin. "Karena lama di Jepang, makin kelihatan disiplinnya," tambah Andrinof Chaniago, rekan sesama pengajar dikutip dari Viva News (10/11/2009).  Julian menempuh pendidikan strata satunya di program studi Ilmu Politik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia (FISIP UI), tempat ia mengajar hingga sekarang ini.

Setelah menyelesaikan tesisnya, lelaki yang berkediaman di kawasan Ragunan ini sempat berfikir untuk melanjutkan studinya ke Amerika Serikat, yang notabene adalah salah satu negara idamannya. Namun ia merasakan bahwa negara adikuasa itu tak lagi menarik .

Dalam pikirannya, sudah begitu banyak orang dari berbagai negara yang belajar di Negara Paman Sam. Tantangannya juga relatif lebih mudah karena menggunakan bahasa pengantar Inggris yang bisa dengan mudah dipelajari oleh siapa saja. Terlintas dipikirannya untuk melanjutkan studi di Jepang.

”Saya belajar sejarah Jepang. Mereka pernah menjadi pecundang saat kalah Perang Dunia Kedua, namun dengan cepat mereka bangkit. Saya ingin tahu rahasia dan strategi mereka (yang tersimpan dalam buku-buku dan budaya berbahasa Jepang),” katanya dikutip dari blog pribadi Rustika Herlambang (02/10/2011).

Ia pun memutuskan untuk mencoba tantangan baru menempuh program master dan dokternya di Hosei University, Tokyo. Setelah menghadapi perjuangan yang penuh keringat dan air mata, akhirnya ia berhasil lulus dengan predikat Summa Cum Laude di bidang ilmu politik pada tahun 1996.

Suami dari Mega Kharismawati ini akhirnya kembali ke Indonesia pada tahun 2005 setelah mapan dan merasa hambar dengan kehidupan disana. Diakuinya, kepulangannya ke Indonesia ditentang banyak teman dan koleganya di Jepang. Namun, karena permintaan sang ibu, akhir lelaki beranak dua ini berlabuh kembali di tanah air dan mengabdikan dirinya sebagai pengajar di kampus lamanya

Sebagai akademisi, Julian Aldrin Pasha sudah banyak sekali memberikan kontribusi baik itu dalam publikasi jurnal internasional ataupun sebagai pengajar di FISIP UI sejak tahun 1993, walau sempat vakum beberapa kali. Selama menjadi pengajar di Universitas Indonesia, beberapa jabatan strategis pernah ia dapuk, antara lain;

  • Asisten Ahli FISIP Universitas Indonesia
  • Ketua Program Pascasarjana Ilmu Politik Universitas Indonesia
  • Wakil Dekan FISIP Universitas Indonesia
  • Dosen tamu di berbagai universitas di Tokyo dan Chiba
  • Komisaris PT. Petrokimia Gresik
Bagian dari Istana
 

bagian dari istana
Julian Aldrin Pasha dan Susilo Bambang Yudhoyono ketika Julian masih bertugas sebagai juru bicara kepresidenan.
Sumber: tstatic.net

Penunjukkan Julian Aldrin Pasha sebagai bagian dari kabinet pemerintahan presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sudah diprediksi banyak pihak. Faktor SBY disinyalir menjadi alasan terbesarnya. Pasalnya, Julian sudah memprediksikan bahwa SBY pantas menjadi Presiden saat dirinya menetap di Negeri Sakura. Secara pribadi, ia mengaku terkejut atas penunjukkan ini. Pasalnya ia mengaku tak pernah mengenal SBY secara langsung dan merasa tak pernah mendaftarkan diri untuk posisi tersebut.

Dibalik keraguan Julian, rekan sejawatnya merasa bahwa lelaki yang pernah menulis surat kepada Ronald Reagan ini mampu menjalankan amanah yang diberikannya. Andrinof Chaniago menilai kecermatan dan kehati-hatian Julian menjadi nilai plus sebagai Juru Bicara Kepresidenan. Peneliti Senior Lembaga Survei Indonesia, Burhanuddin Muhtadi, juga menilai Julian sebagai orang yang kalem. "Mungkin karena itu SBY suka dengannya," kata Burhan dikutip dari Viva News (10/11/2009).

Julian Aldrin Pasha dilantik sebagai Juru Bicara Kepresidenan RI, menggantikan Andi Malaranggeng, pada 22 Oktober 2009. Semasa menjabat menjadi jubir, wartawan seringkali kerap harus memutar otak untuk mengorek informasi darinya. Semua itu dapat terjadi bukan hanya karena pembawaannya yang tenang dan hemat bicara, tapi juga sebagai hasil proses belajar memilah informasi.

“Ya itu memang karena saya belum tahu atau saya tahu dan memang tidak perlu untuk disampaikan, mungkin saya juga tidak harus sampaikan. Tapi bukan berarti kalau ada hal-hal yang harus saya manipulasikan, saya pastikan itu tidak ada," kata Julian kepada Kompas (14/10/2014).

baca juga: kisah inspirasi Bona Sardo

Selepas jabatannya, ia memilih untuk kembali mengabdikan dirinya sebagai akademisi dan pengajar di Departemen Ilmu Politik Universitas Indonesia. "Saya kembali ke kampus, mengajar. Saya tidak akan ke mana-mana ada di sini. Kalau nanti saya harus bicara lagi soal politik, berarti nanti itu saya akan bicara sebagai pengamat, sudah leluasa berbicara yah," ucapnya dikutip dari Kompas (14/10/2014).

“Perjalanan hidup ini adalah benar-benar pilihan saya. Dunia yang saya inginkan. Bukan karena tak ada pilihan.” Ucap Julian kepada Rustika Herlambang (02/10/2011) mensyukuri apa yang telah hidup berikan kepadanya. Hal yang ia inginkan sekarang adalah menjalani hidupnya sebagai akademisi dan menghabiskan banyak waktu yang terbuang bersama keluarga kecilnya, beristirahat sejenak dari hiruk pikuk perpolitikan Indonesia.

Begitulah kisah inspiratif seorang Julian Aldrin Pasha. Hobinya membaca buku membawanya menjadi salah satu akademisi di dunia politik yang paling disegani. Predikat itu pun membuatnya terpilih menjadi juru bicara kepresidenan RI, sebuah jabatan yang tak ia impikan sebelumnya. Ingin mengikuti jejaknya? Simak kisah tokoh-tokoh inspiratif lainnya bersama Kinibisa!