span 1 span 2 span 2

Inspirasi

Faisal Basri: Analis Ekonomi Terjun ke Politik
Oleh : Nanda Aulia Rachman
03 Mei 2018

Highlight

Perjuangan ini bukan hanya untuk diri ataupun untuk negeri, melainkan untuk seseorang telah yang membentuk jiwa dan hatinya.

Faisal Basri
Faisal Basri merupakan seorang ekonom dan aktivis yang berintegritas.
Sumber: katadata.co.id

Berangkat dari kesusahan, tidak semua orang bisa meresapi status quo dan memutarbalikkan keadaan. Seorang bijak pernah berkata “Orang hebat bukanlah orang yang tak pernah gagal, tapi mereka adalah orang yang mampu bangun berkali-kali dari keterupurukan itu.” Dengan semangat itulah, Kinibisa mengangkat Faisal Basri, ekonom dan aktivis yang tetap mempunyai integritas tinggi dibalik segala kesulitan yang melanda.



"Ibu saya SMP enggak tamat. Bukan dari sederhana lagi, tapi keluarga miskin malahan. "

Drs. Faisal Basri M.A, lahir di Bandung, 6 November 1959. Ia merupakan seorang ekonom, aktivis dan politikus Indonesia. Bidang disiplin yang ia kuasai adalah ilmu ekonomi, ekonomi politik, dan pengembangan ekonomi. Anak dari Hasan Basri Batubara ini merupakan pendiri Partai Amanat Nasional (PAN).

Masa Muda Faisal Basri
 

Faisal merupakan anak sulung dari empat bersaudara. Walaupun lahir di Bandung,ia sudah bersekolah di Jakarta sejak sekolah dasar, tepatnya di SD Halimun 1. "Ibu saya SMP enggak tamat. Bukan dari sederhana lagi, tapi keluarga miskin malahan. Kami di Bandung tinggal di Jalan Tupai. Rumah panggung, bawahnya tanah. Mengontrak di sana. Saya anak paling tua dari empat bersaudara, tapi adik di bawah saya sudah meninggal. Saya lahir di Bandung terus usia enam tahun, pada tahun 1966 pindah ke Jakarta di Gang Edi," katanya kepada Tribun News (20/10/2014)

ketua tim reformasi migas
Faisal Basri merupakan Mantan Ketua Tim Reformasi Tata Kelola Migas.
Sumber: nusakini.com

Ayah tiga anak ini selanjutnya melanjutkan pendidikannya ke SMPN 67 Jakarta dan SMAN 3 Jakarta. Layaknya remaja pada saat itu, Faisal mengalami fase pencarian jati diri saat itu. “Ini masa bandel-bandelnya. Suka bolos. Rapor saya banyak merahnya,” akunya dikutip dari Tokoh Indonesia (25/02/2012).

Pada masa ini pula, Faisal muda mulai membaca majalah Prisma yang menjadi pemicu ketertarikannya pada masalah ekonomi-politik. "Waktu itu kan sedang kuat-kuatnya polemik. Salah satunya tentang (teori) dependensia," tuturnya kepada Tokoh Indonesia (25/02/2012). Hal ini pula yang menariknya untuk mengejar studi ekonomi di Universitas Indonesia.

baca juga: kisah inspiratif Chatib Basri

Gejalak politik yang bergejolak pada tahun 1978 membuat Faisal muda larut dalam berbagai gerakan organisasi kampus seperti Badan Perwakilan Mahasiswa (BPM) dan gerakan pers kampus.Banyaknya aksi demonstrasi mahasiswa membuat kondisi pemerintahan semakin tidak kondusif saat itu. Pemerinta orde baru akhirnya merespon dengan memasukkan unsur militer dalam kampus, membubarkan Dewan Mahasiswa dan menerbitkan kebijakan pemerintah Orde Baru, Normalisasi Kehidupan Kampus (NKK).

Karir yang Tak Terduga
 

mengajar di feb ui

Faisal Basri telah mengajar di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia sejak tahun 1981.
Sumber: wp.com

Ayah dari tiga anak ini akhirnya memutuskan beralih menjadi asisten dosen dan peneliti di Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM FEB UI) pada tahun 1981. Diterimanya ia sebagai peneliti secara otomatis menghentikan kegiatan kemahasiswaannya. Saya harus mengongkosi kuliah sendiri, ayah sudah wafat," katanya menjelaskan alasannya nyambi kerja sambil kuliah, dikutip dari Tokoh Indonesia (25/02/2012).

Hal ini juga membuka sebuah karir yang tak pernah ia pikirkan sama sekali sebelumnya, menjadi akademisi.Pasalnya, kewajiban mengajar bagi asisten dosen merupakan peraturan yang berlaku di LPEM. Ia mengaku kerap berkeringat-dingin ketika harus mengisi kuliah karena dosen yang ia asisteni berhalangan hadir. Selain mengajar, ia juga mendapatkan pengalaman baru meneliti ke berbagai daerah di tanah air.

Akhirnya pada tahun 1985, ia berhasil menjadi seorang sarjana ekonomi. Selepas kuliah, ia terus melanjutkan pekerjaannya sebagai asisten peneliti bagi Dr. Dorodjatun Kuntjoro Jakti sebelum mengambil beasiswa program masternya di Vanderbilt University, Amerika Serikat pada tahun 1986.

Sekembalinya dari Amerika Serikat, ia memutuskan untuk melanjutkan program doktornya, tetapi tidak di bidang ekonomi melainkan di bidang politik. Akan tetapi, keputusannya itu tidak disetujui oleh pihak FEB UI yang membiayai kuliah Faisal.

Dibalik kemalangannya, Faisal mendapatkan berkah lain. Ia diangkat menjadi Kepala LPEM pada tahun 1993. Sebuah pencapaian yang luar biasa, menurutnya, karena ia dipercayai menjadi pemimpin di tempat ia memulai karir pertamanya.

Kesibukan riset, mengajar dan juga aktivitas politiknya menganggu rencana studi Faisal yang pada saat itu sedang mengambil gelar doktor di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik di Universitas Indonesia. Pada saat itu ia telah menjalani 6 semester mempelajari Ilmu Politik dan masih tersisa 4 mata kuliah dan satu disertasi yang harus diselesaikan dalam 4 semester tersisa. "Waktu mengambil (doktor), Pak Djatun yang mendorong. Karena tak mungkin selesai, ya, saya putuskan untuk mengundurkan diri," jelasnya dikutip dari Tokoh Indonesia (25/02/2012).

Selain menjadi pengajar dan peneliti, berbagai posisi pernah ia jabat selama karirnya antara lain;

  • 1981-sekarang: Pengajar pada Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia
  • 1981-1998: Peneliti pada Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat FEBUI
  • 1985-1987: Anggota Tim “Perkembangan Perekonomian Dunia” pada Asisten II Menteri Koordinator Bidang EKUIN
  • 1989-1993: Koordinator Bidang Ekonomi pada PAU-Ek-UI
  • 1990: Pengajar pada Sekolah Tinggi Ekonomi, Keuangan dan Perbankan Indonesia (STEKPI)
  • 1991-1998: Sekretaris Program pada Pusat Antar Universitas bidang Ekonomi, Universitas Indonesia
  • 1991-1998: Pengajar pada Fakultas Ilmu-ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia
  • 1992-1998: Anggota Redaksi Jurnal Ekonomi Indonesia, diterbitkan oleh Pengurus Pusat Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI)
  • 1993-1997: Koordinator Bidang Ekonomi, Panitia Kerja Sama Kebahasaan Brunei Darussalam-Indonesia-Malaysia (Mabbim)
  • 1993-1995: Kepala Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat, Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (LPEM-FEUI)
  • 1994-1995: Pakar Ekonomi pada P3I DPR-RI
  • 1995-1998: Ketua Jurusan ESP (Ekonomi dan Studi Pembangunan) FEUI
  • 1995-1998: Pengajar pada Program Pascasarjana Universitas Indonesia, bidang studi Ekonomi, untuk mata kuliah Strategi dan Kebijakan Pembangunan; dan Program Studi Kajian Wanita; dan Program Studi Khusus Hubungan Internasional
  • 1995-1999: Tenaga Ahli pada proyek di lingkungan Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral, Direktorat Jenderal Pertambangan Umum, Departemen Pertambangan dan Energi
  • 1995-1998: Guest Editor pada NIPPON (Seri Publikasi Monograf Pusat Studi Jepang Universitas Indonesia)
  • 1996-1998: Anggota Dewan Redaksi Majalah Kajian Ekonomi-Bisnis “Media Eksekutif”, Program Extension Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia
  • 1997-1998: Research Associate dan Koordinator Penelitian Bidang Ekonomi dalam rangka kerja sama penelitian antara Pusat Studi Jepang Universitas Indonesia dengan University of Tokyo
  • 1997-sekarang: Editorial Board, Jurnal Bisnis & Ekonomi Politik (Quarterly Journal of the Indonesian Economy), diterbitkan oleh Institute for Development of Economics and Finance (Indef)
  • 1995-2000: Expert (dan Pendiri), Instutute for Development of Economics & Finance (Indef)
  • 1999-2003: Ketua, Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Perbanas Jakarta
  • 1999-2000: Redaktur Ahli Koran Mingguan “Metro”
  • 1999-2000: Dewan Pengarah Jurnal Otonomi, diterbitkan oleh Yayasan Pariba
  • 2000: Anggota Tim Asistensi Ekuin Presiden RI
Faisal dan Politik Indonesia
 

Suami dari Syafitrie ini mulai mengenal politik secara langsung saat ia aktif berorganisasi dan berdemonstrasi saat masa perkuliahan. Setelah vakum beberapa lama mengejar studi, pertemuannya dengan isu politik terjadi semasa ia menjadi ketua jurusan di FEB UI. Ia intens berkomunikasi dengan mahasiswa UI yang menjadi demonstran mengenai krisis ekonomi yang menyerang pada tahun 1997.

Seusai kejatuhan Soeharto, Faisal Basri bersama 49 tokoh nasional lainnya mendeklarasikan berdirinya Partai Amanat Nasional yang dulunya bernama Mara (Majelis Amanat Rakyat) pada 23 Agustus 1998. Lelaki yang merupakan keponakan dari Adam Malik ini keluar dari PAN pada tahun 2001. Namun selepas itu ia tidak meninggalkan dunia politik begitu saja. Dia mendirikan Pergerakan Indonesia (PI).

Melalui PI lah ia menelurkan berbagai gagasan akan solidaritas dan kebangsaan. Bersama kaum muda, ia kerap turun berkontribusi di berbagai organisasi masyarakat (ormas) seperti;

  • Forum Indonesia Damai
  • Komisi Darurat Kemanusiaan
  • Dewan Tani Indonesia
  • Yayasan Harkat Bangsa
  • Global Rescue Network
  • Yayasan Pencerah Indonesia

LSM
Faisal Basri pernah berkecimpung di banyak LSM dan ormas
Sumber: sindonews.net

Kepiawaiannya di bidang ekonomi dan politik juga membawanya kepada sebuah amanah baru di bidang pemerintahan. Ia diangkat menjadi anggota Komisi Pengawasan Persaingan Usaha (KPPU) pada tahun 2000 hingga akhir masa jabatannya pada tahun 2006. Berbagai kasus telah ia hadapi contohnya seperti polemik jaringan minimarket yang menggerus bisnis usaha kecil menengah seperti warung-warung sembako.

Faisal Basri pun sempat mencalonkan diri sebagai calon gubernur DKI Jakarta pada tahun 2012 bersama Biem Benyamin, putra tokoh legendaris Betawi, Benyamin Sueb, lewat jalur independen. Dirinya saat itu gagal maju ke putaran selanjutnya. Pemilukada DKI Jakarta 2012 pun dimenangkan oleh pasangan Joko Widodo (Jokowi) dan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok).

baca juga: kisah inspiratif Munir Said Thalib

Sekarang ini, dirinya kebanyakan disibukkan sebagai pengamat ekonomi. Namun Faisal sendiri lebih menyukai dirinya disebut sebagai analis ekonomi. Hal itu karena ia tak hanya sekedar mengamati tapi juga memberikan analisis menurutnya. Walaupun dirinya sering disudutkan karena tulisannya yang gambling di berbagai media massa, ia tetap teguh pada pendiriannya.

 

Demikian kisah inspiratif Faisal Basri, seorang ekonom handal yang berani terjun ke dunia politik. Sosok Faisal Basri agaknya dapat menjadi inspirasi bagi kita semua untuk menuntut ilmu setinggi-tingginya dan berani bersikap. Simak kisah inspiratif tokoh-tokoh lainnya bersama Kinibisa!