span 1 span 2 span 2

Inspirasi

Bona Sardo: Psikolog Muda Multitalenta
Oleh : Nanda Aulia Rachman
01 Mei 2018

Highlight

Mungkin karena lahir di keluarga Batak ya, jadi kalau anak laki-laki tuh harus achieve setinggi mungkin.

bona sardo
Bona Sardo Hasoloan Hutahaean adalah dosen Fakultas Psikologi Universitas Indonesia yang sempat mengikuti ajang pencarian bakat Indonesian Idol.
Sumber: dokumentasi narasumber

Berganti karier bukanlah sebuah hal yang mudah. Diperlukan tekad dan kemampuan untuk membuka jalan karier di bidang lain. Kinibisa mengangkat Bona Sardo, seorang penyanyi jebolan Indonesian Idol yang memilih untuk menjadi akademisi dan psikolog di Universitas Indonesia.

Bona Sardo Hasoloan Hutahaean, M.Psi. adalah seorang akademisi dan psikolog yang lahir di Depok, 17 Januari 1984.Ia mendalami studi di bidang psikologi klinis.Fokus studi ini sendiri mempelajari tentang diagnosis terhadap masalah-masalah psikologis dan masalah kesehatan mental.

 



"Waktu itu diajak sama ibu Patricia, guru kesenian saya, saya inget banget. Beliau ajak saya waktu kelas 3 atau 4 SD. Dulu tuh jamannya ada PORSENI, jadi saya ikut lomba itu mulai dari tingkat SD, kelurahan sampai provinsi."

Masa Kecil Bona
 

Bona merupakan anak bungsu dari 5 bersaudara. Sebagai anak paling “bontot”, tak jarang ia jadi target kejahilan kakak-kakaknya.  Posisinya sebagai satu-satunya anak lelaki dalam keluarganya secara tidak langsung memberikan tekanan tersendiri baginya untuk sukses. “Mungkin karena lahir di keluarga Batak ya, jadi kalau anak laki-laki tuh harus achieve setinggi mungkin,”jelasnya pada Kinibisa saat ditemui di kantornya (15/06/2017)

 

anak bungsu
Bona Sardo merupakan anak bungsu dari lima bersaudara. 
Sumber: talk-incorporation.com

Sejak kecil, Bona memang dikenal sebagai anak yang pintar dibandingkan kakak-kakaknya.Hal ini diakui oleh teman dan keluarganya.Walaupun selalu menjadi juara kelas sejak sekolah dasar, Bona kecil lebih memilih untuk menekuni hobinya di bidang tarik suara.

“Waktu itu diajak sama ibu Patricia, guru kesenian saya, saya inget banget. Beliau ajak saya waktu kelas 3 atau 4 SD. Dulu tuh jamannya ada PORSENI, jadi saya ikut lomba itu mulai dari tingkat SD, kelurahan sampai provinsi,” ujarnya. Melihat bakatnya itu, orangtua Bona mendaftarkannya untuk mengikuti les menyanyi dan bermain organ (piano).

Asal Muasal Psikologi bagi Bona
 

Setelah lulus dari SMAN 1 Cibinong, ia sempat gagal pada kesempatan pertama. Bona tidak berhasil menembus keketatan ujian saringan masuk ke program studi Biologi Universitas Indonesia. Kegagalannya ini menjadi salah satu keputusan yang ia tidak sesali. “Untungnya gak lulus, kalo iya saya bakal end up di lab terus. Gak saya banget hahaha!” kata Bona sambil tertawa kecil mengenang masa lalunya.

Pada percobaan keduanya, ia memilih untuk mengejar studi ke jurusan Psikologi di perguruan tinggi yang sama dengan pilihan sebelumnya. Alasannya memilih program studi di ranah sosial itu sebenarnya datang dari pengaruh lingkungannya. “Karena sudah terekspos dan kenal dengan psikologi dari buku-buku yang bebas dijual di pasaran, terus guru organ dan sepupu saya kuliah di Psikologi Atmajaya,” jelasnya. Secara tidak langsung ia pun terdorong untuk masuk kesana karena telah terekspos dengan ilmu psikologi.

Lelaki ini menempuh studi strata satu dan duanya di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia  sejak tahun 2003. Ia sempat mendapat gelar kehormatan di bidang seni sebagai mahasiswa berkat pencapaiannya di kompetisi menyanyi Indonesian Idol.

pembicara
Bona saat menjadi pembicara di sebuah seminar yang diadakan Fakultas Psikologi Universitas Indonesia.
Sumber: bp.blogspot.com

Selama berkuliah, ia tetap aktif di berbagai kegiatan di luar kampus, terutama di bidang tarik suara. Sejak tren ajang pencarian bakat menyanyi ramai di awal tahun 2000, Bona sudah antusias mengikutinya.Akhirnya, ia mendapatkan kesempatannya di Indonesian Idol edisi pertama.

Sebagai orang yang ambisius, ia mempelajari cara mengelola diri atau self-management dan menentukan prioritas selama kuliah. Kegiatannya yang diwarnai dengan jadwal menyanyi, pemotretan, dan kegiatan artis lainnya, seringkali berbenturan dengan kegiatannya di kampus. Seringkali ia harus memilih satu diantara dua pilihan itu. Tidak jarang ia memaksakan untuk mengikuti keduanya. Hal itu berdampak buruk pada kesehatannya.

“Kan ga mungkin saya nyanyi sambil kerja tapi IP bagus dan kuliah tepat waktu, harus ada prioritas.”kata Bona. Salah satu triknya adalah mengambil SKS yang tidak terlalu banyak untuk  mengakomodir jadwalnya. Akhirnya Bona berhasil menyelesaikan pendidikan sarjananya dalam waktu 5 tahun.Menurutnya yang penting adalah ilmu dan pengalaman yang didapat selama kuliah, bukan hanya sekedar nilai.

Mencuat di Indonesian Idol
 

bersama finalis idol
Bona bersama beberapa finalis Indonesial Idol musim pertama.
Sumber: twimg.com

Kemunculan Bona Sardo di dunia hiburan Indonesia mencuat lewat ajang Indonesian Idol, ajang pencarian bakat menyanyi, pertama pada tahun 2004. Bona berhasil bertahan hingga Top 7 pada babak spektakuler 4 di kompetisi yang dimenangkan oleh Joy Tobing ini.

Perubahan status dan lingkungan yang terlalu drastis dan tiba-tiba menimbulkan culture shock baginya.” Saya shock-nya dengan tiba-tiba tenar. Ini gejala psikologis yang baru saya pahami saat jadi psikolog.” Jelasnya. Kegiatannya yang jauh berbeda menuntutnya untuk beradaptasi. Setiap hari, ia dipenuhi oleh kamera dan wawancara.

“Tampil di TV dikomentarin orang, terus masuk ke handphone. Dari minggu ke minggu, nomor saya kesebar kemana-mana. Ratusan SMS masuk tiap hari ke hp saya. Terus saya nyanyi dan promo kemana-mana ya layaknya artis,” kenang Bona. Padatnya jadwal dan kegiatannya setiap harinya membuat Bona sempat merasa kewalahan dan jenuh dengan rutinitas barunya.

Hingga sekarang, ia masih menjaga hubungan baik dengan beberapa orang teman dan koleganya di Indonesian Idol, salah satunya Suci dan Helena.”Paling sering ketemu sama Suci beberapa kali. Sekarang kan Suci jadi selebgram, tenar banget. Kalo kemana gitu yang dimintain foto dia, kalau saya udah gak laku haha.” Kata Bona. Dia pun merasa kelekatan yang terbangun saat itu lebih karena mereka berada pada posisi yang sama-sama berniat mencapai satu tujuan.

Memulai Kehidupan Profesional di Bidang Lain
 

menekuni presenter
Bona Sardo, sempat menekuni karir sebagai presenter selama dua tahun.
Sumber: dokumentasi narasumber

Sebelum menempuh studinya di tahun 2012, ia kembali terjun ke bidang hiburan yang ia cintai. Ia menjadi presenter talkshow For Youth Info, sebuah perbincangan untuk remaja di O Channel pada tahun 2007 selama 2 tahun.

Lelaki berdarah Batak ini juga menjadi penyiar radio di I-Radio. Program yang ia pegang saat itu adalah Senandung Cinta. Ia menjalankan karirnya sebagai penyiar radio sejak 2008 hingga 2014.Bona tetap mendalami karirnya sembari menjalankan studi masternya pada tahun 2010, mengambil Program Studi Psikologi Klinis di Universitas Indonesia. Selama ia berkuliah disana, berbagai kegiatan sosial kerap ia lakukan, kebanyakan sebagai penyuluh di bidang kesehatan mental dan seksual. Ia berhasil lulus pada tahun 2012 dengan gelar judicium Cum Laude.

Lelaki ini mengakui tertarik untuk mempelajari lebih lanjut terhadap isu-isu di psikologi kesehatan, seksualitas, komunitas LGBT dan epidemik HIV/AIDS. Hal ini ditujukkan dengan keterlibatannya menjadi konselor relawan di Komisi Penanggulangan AIDS DKI Jakarta[1]

Dedikasi Sebagai Akademisi dan Praktisi
 

Setelah lulus di tahun 2012, ia mulai menapaki karir di bidang klinis dan akademis. Menurutnya, ilmu psikologi klinis merupakan salah satu cabang studi yang menarik karena ia mempelajari seluk beluk kepribadian individu yang unik, dan berbeda tiap kasusnya. Ia tertarik dengan kemungkinan-kemungkinan itu yang membuatnya terus menerus mengintrospeksi intrapersonal diri secara aktif.

pemibcara dalam seminarBona Sardo sering dipercaya menjadi pembicara dalam seminar yang membahas psikologi.
Sumber: bempsikologi.ui.ac.id

“Klinis itu sangat bicara mengenai dinamika kepribadian individu, dia tidak hanya bicara tentang gangguan klinis tapi juga dinamika kepribadian yang menyertainya sampai pada akhirnya dapat mengarah pada diagnose satu gangguan tertentu.” jelas Bona tentang bidangnya.

Lelaki berusia 33 tahun ini terdaftar sebagai staf akademis di Program Studi Psikologi Universitas Indonesia pada tahun 2013 hingga saat ini. Sebelum diterima di UI, ia sempat mengajar selama dua tahun di Universitas Pancasila.

Bona sendiri baru menyadari kapabilitasnya sebagai seorang pengajar ketika diajak Becky Tumewu untuk mengisi kelas di Talk.Inc.Ia menjadi fasilitator Public Speaking di Talk Inc, akademi untuk presenter TV dan Master of Ceremony (MC) sejak 2012. Ia membagikan pengalaman serta pengetahuannya soal kepercayaan diri, mengatasi ketakutan, dan teknik berbicara di depan umum kepada masyarakatnya.

Profesi pengajar rupanya menjadi jalan hidup Bona. Dengan berprofesi sebagai pengajar psikologi dan psikolog, ia dapat membantu banyak orang untuk mengembangkan dirinya masing-masing. “Saya ingin membantu lebih banyak orang lagi untuk berkembang. Sehingga, dunia sebagai pengajar mengakomodir passion saya tersebut,” kata Bona.

baca juga: kisah inspirasi Andrinof Chaniago

Selain mendedikasikan dirinya sebagai seorang pengajar, Bona juga tidak lupa untuk terus mengasah kemampuan praktisnya, baik di bidang psikologi maupun hiburan.Finalis Indonesian Idol ini aktif sebagai psikolog klinis di Rumah Sakit Mitra Keluarga dan Klinik Terpadu Fakultas Psikologi UI Depo.

Ia juga pernah menjadi Associate Psychologist di Experd, sebuah konsultan psikologi yang bergerak di bidang sumber daya manusia. Bona mempunyai kemampuan sebagai pengajar, konselor, fasilitator dan seorang assessor.Tidak jarang, lelaki yang pernah tinggal di Depok ini diundang untuk mengisi penyuluhan atau menjadi narasumber di berbagai acara.

 

Lelaki yang mempunyai hobi travelling ini beraspirasi untuk menjadi pribadi yang dapat memberikan inspirasi bagi mahasiswanya serta mengabdikan diri pada masyarakat dan lingkungan akademik. Menurutnya, pendidikan di Indonesia terutama di bidang psikologi sudah menunjukkan perkembangan yang positif, terutama soal jenjang profesi. Untuk meningkatkan dan mengembangkan diri dan sekitar, Bona berpesan bahwa kita harus tahu apa kekuatan kita dan terus berusaha sebaik mungkin dalam setiap saat. Kembangkan dirimu bersama Bona untuk menjadi #generasikompeten di Kinibisa!


[1]Bona S.H Hutahean, M.Psi, Psikolog; Laman profil Linkedin.
https://www.linkedin.com/in/bona-s-h-hutahaean-m-psi-psikolog-8b0a6751/?ppe=1 (diakses pada 2 Juni 2017)