span 1 span 2 span 2

Inspirasi

Andrinof Chaniago: Ahli Riset Jadi Menteri
Oleh : Ardito Ramadhan
27 April 2018

Highlight

Sifat kerja keras Andrinof muncul ketika ayahnya meninggal dunia saat Andrinof masih berusia 11 tahun.

Peneliti
Merupakan seorang peneliti yang mempunyai segudang pengalaman di dunia riset. Ia mempunyai fokus pada isu pembangunan dan kebijakan publik. Tak heran, ia sempat diangkat menjadi Kepala Bappenas pada pemerintahan Jokowi.
Sumber: tempo.co

Kecintaannya dengan dunia riset dan penelitian telah dirintis sejak duduk di bangku kuliah. Keahlian meneliti yang dipadukan dengan ketertarikannya di dunia politik membuat namanya dikenal sebagai salah satu peneliti politik di Indonesia. Berkat pengalamannya itu, sosok ini pun sempat mencicipi bangku Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional. Simak kisah inspiratif Andrinof Chaniago bersama Kinibisa!



"Beliau adalah ahli kebijakan publik dan anggaran. Banyak menulis buku tentang gagalnya pembangunan dan saya mengajak beliau supaya pembangunan kita tidak gagal."

Suka Penelitian sejak Kuliah
 

Andrinof Chaniago lahir di Padang pada 3 November 1962. Andrinof kecil dikenal sebagai anak yang cerdas dan pekerja keras. Saat duduk di bangku SD, Andrinof merupakan murid terbaik di sekolahnya. Namun, prestasi itu rupanya tak membuat Andrinof otomatis diterima di sekolah favorit. Ia ditolak oleh SMP rayon favorit dan mesti menimba ilmu di sebuah Madrasah Tsanawiyah di Padang Pariaman yang berjarak sekitar 60 km dari Padang.

Sementara, sifat kerja keras Andrinof muncul ketika ayahnya meninggal dunia saat Andrinof masih berusia 11 tahun. Oleh karena itu, ia mesti membantu ibunya berjualan kue agar memperoleh pendapatan untuk melanjutkan sekolah. “Saya menjaja kue buatan ibu ke para tetangga,” kata Andrinof dikutip dari Tokoh.id[1]

Andrinof Chaniago
Andrinof Chaniago.
Sumber: wikimedia.org

Saat naik ke kelas 2 SMP, Andrinof meninggalkan tanah Minang untuk berhijrah ke Jakarta. Di Jakarta, Andrinof tinggal bersama bibinya yang juga membiayai pendidikannya. Ketika bersegaram putih-biru itulah Andrinof mulai hobi menulis. Saat itu, ia banyak menulis puisi yang dikirim ke beberapa koran seperti Sinar Harapan dan Kompas. Andrinof pun sempat mengharumkan nama sekolahnya dengan memenangkan sebuah lomba puisi.

Setelah lulus SMA, Andrinof melanjutkan pendidikannya di Universitas Indonesia mengambil jurusan politik. Masa perkuliahan menjadi waktu di mana Andrinof mulai mengenal dengan dunia riset. Demi menutup biaya kuliahnya, Andrinof juga berkerja di Litbang Kompas sebagai peneliti polling.

Di samping kesibukannya sebagai mahasiswa dan peneliti polling di Litbang Kompas, Andrinof rupanya juga tercatat sebagai aktivis kampus. Ia sempat menjadi Ketua Umum Senat Mahasiswa FISIP UI dan Ketua Badan Perwakilan Mahasiswa FISIP UI.

baca juga: kisah inspiratif Amir Syamsudin

Memasuki pertengahan masa kuliah, Andrinof mulai menympan ketertarikannya dengan isu-isu ekonomi politik. Tak heran, judul skripsi yang diambil Andrinof adalah ‘Masalah Pengalihan Teknologi untuk Pengembangan Industri Strategis’. Judul skripsi ini pula yang membawa Andrinof terbang ke Singapura untuk menjadi research fellow Institute of South East Asian Studies (ISEAS) yang berkantor di sana.

Bagi Andrinof, kesempatan tersebut adalah prestasi yang membanggakan. Sebab, ia adalah satu-satunya peserta yang masih bertitel sarjana. Sementara, peserta lainnya telah berstatus sebagai mahasiswa magister dan doktor.

Peneliti, Pilihan Karir Andrinof
 

lulusan fisip ui
Andrinof Chaniago merupakan lulusan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UI.
Sumber:
sindonews.net

Pengalamannya ketika menjadi research fellow ISEAS rupanya membangkitkan gairah riset Andrinof. Setelah memperoleh gelar sarjana, Andrinof memulai karir di Lembaga Penelitian dan Pengembangan Ilmu Sosial (LPPIS) FISIP UI yang beralamat di bekas kampusnya itu. Di sana, ia bekerja sebagai koordinator suvei.

Salah satu survei yang pernah pimpin selama di LPPIS adalah survey berjudul “Yang Muda Yang Konservatif”. Survei yang dilakukan pada 1993 itu menunjukkan bahwa anggota DPR yang berusia muda justru takut dengan perubahan. Survei ini pun sempat terpilih sebagai cover story majalah Tempo. Setelah survei itu, Andrinof semakin sulit lepas dari kegiatan penelitian.

Tiga tahun berkarir di LPPIS, Andrinof pindah ke majalah Ummat untuk bekerja sebagai Koordinator Riset dan Dokumentasi majalah itu. Pada 1996, Andrinof kembali berpindah tempat kerja. Kali ini, Andrinof bergabung dalam harian ekonomi Neraca sebagai Kepala Kompartemen Riset dan Bank Data.

Namun, Andrinof agaknya merasa dirinya tak cocok menjadi seorang peneliti bagi sebuah media. Hal tersebut membuat Andrinof memutuskan keluar dari Neraca pada 1999. Setelah keluar dari Neraca, Andrinof kebanjiran tawaran pekerjaan. Salah satu tawaran pekerjaan datang dari Denny JA yang baru mendirikan Lembaga Survei Indonesia. Saat itu, Andrinof ditawari posisi Direktur Riset.

Andrinof menolak tersebut. Alasannya, ia ingin mengembangkan ilmu dari hasil riset kualitatif, bukan hanya berkegiatan di dunia survey. Alasan itu pula yang membuat Andrinof mendirikan lembaga risetnya sendiri. Pada 1999, Andrinof mendirikan Center of Indonesian Regional and Urban Studies yang mempunyai akronim CIRUS.

Lembaga riset tersebut banyak mengkaji masalah-masalah otonomi daerah, kebijakan publik, dan pelayanan publik perkotaan. Topik-topik ini merupakan topik-topik yang sepertinya cukup menarik perhatian Andrinof. Di samping kesibukannya sebagai peneliti, Andrinof juga berstatus dosen mata kuliah Ekonomi Politik, Politik Perkotaan, dan Isu-isu Politik dalam Kebijakan Publik di bekas alamamaternya.

Demokratisasi yang terjadi pasca runtuhnya rezim Orde Baru rupanya juga memberi keuntungan bagi Andrinof dan CIRUS. Pemilihan Umum yang dilakukan secara langsung meningkatkan kebutuhan akan adanya lembaga-lembaga survei yang berkualitas. Survei-survei yang dilakukan CIRUS pun sering dijadikan patokan oleh media massa dan partai politik. Berkat itulah nama CIRUS dan Andrinof semakin dikenal masyarakat. 

Lama malang-melintang di dunia riset dan penelitian, Andrinof tentu mempunyai berbagai kisah suka dan duka selama menjalani profesi tersebut. Ia mengatakan kekecawaan sering dialami seorang peneliti saat menjalani tugasnya. Misalnya, ketika seorang peneliti menyeberangi laut dan menjelajahi hutan untuk menemui narasumber yang tinggal di pelosok tetapi orang yang dituju justru tidak ada di tempat atau enggan diwawancarai.

Pengalaman-pengalamannya yang sangat kaya juga membuat Andrinof terpilih sebagai Ketua Perhimpunan Survei Opini Publik Indonesia (Persepi). Persepi sendiri didirikan untuk menjadi wadah bagi setiap lembaga riset di Indonesia dan menjadi tempat bagi lembaga riset untuk mengatasi masalah-masalah yang mereka alami.

Negara Gagal dan Visi 2033
 

peluncuran buku
Peluncuran buku "Evolusi Mimpi Menata Indonesia" karya Andrinof Chaniago.
Sumber:
republika.co.id

Hobi menulis yang dimilikinya sejak kecil rupanya berlanjut hingga dewasa. Di tengah kesibukannya sebagai peneliti, ia menyempatkan diri menulis sebuah buku berjudul Gagalnya Pembangunan: Kajian Ekonomi Politik Akar Krisis Indonesia yang terbit pada 2001.

Dalam buku tersebut, Andrinof menuangkan pemikiran-pemikirannya terkait pembangunan di Indonesia. Buku yang diterbitkan oleh LP3ES itu juga menyajikan data-data mengenai indikator pemerintahan, ekonomi, dan pembangunan. Melalui buku itu pula, Andrinof menunjukkan rapuhnya model ekonomi yang diterapkan Pemerintahan Orde Baru.

Selain itu, Andrinof juga sempat menelurkan sebuah hasil kajian yang berjudul Visi Indonesia 2033. Menurut Andrinof, Visi Indonesia 2033 adalah sebuah gagasan pembangunan jangka panjang yang menargetkan terwujudnya Indonesia yang sejahtera dengan kemakmuran yang tersebar dan keadilan yang merata.

Salah satu poin dalam kajian tersebut adalah usulan memindahkan ibukota ke Kalimantan. “Usulan ini bukan usulan yang reaktif, tapi kami pertimbangkan konsekuensi ekonominya, konsekuensi politiknya dan dampak sosialnya,” kata Andrinof kepada ANTARA[2].

Setelah Visi Indonesia 2033 dirilis, nama Andrinof pun semakin dikenal masyarakat. Mulai saat itu, Andrino pun tak hanya dikenal sebagai seorang peneliti tapi juga sebagai pengamat pembangunan, kebijakan publik, dan birokrasi.

Terpilih Menjadi Menteri
 

memiliki keahlian
Andrinof Chaniago dipercaya memiliki keahlian dalam kebijakan publik dan anggaran oleh Presiden Jokowi.
Sumber:
katadata.co.id

Memasuki musim pesta demokrasi pada 2014, nama Andrinof kembali melambung. Saat itu, salah satu kandidat Presiden, Joko Widodo, agaknya ‘kepincut’ dengan visi pembangunan yang dimiliki Andrinof. Meski tak mengaku bergabung dalam tim sukses Jokowi, Andrinof disebut sebagai sosok yang banyak memberi masukan kepada mantan Gubernur DKI Jakarta itu dalam sektor pembangunan.

Pasca meraih kemenangan pada Pemilu 2014, Jokowi pun menunjuk Andrinof sebagai Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN) sekaligus Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas).  Jokowi agaknya cukup terkesima dengan gagasan-gagasan Andrinof mengenai pembangunan.

“Beliau adalah ahli kebijakan publik dan anggaran. Banyak menulis buku tentang gagalnya pembangunan dan saya mengajak beliau supaya pembangunan kita tidak gagal,” kata Jokowi ketika mengumumkan susunan kabinetnya.[3]

Namun, keikutsertaan Andrinof dalam Kabinet Kerja mesti berakhir lebih cepat. Pada Agustus 2015, Presiden Jokowi melantik Sofyan Djalil untuk menggantikan posisi Andrinof sebagai Menteri PPN/Kepala Bappenas.

Ada cerita menarik soal reshuffle cabinet tersebut. Sebuah artikel dari Detik[4] mengisahkan momen ketika Jokowi mengutarakan keputusannya memberhentikan Andrinof. Artikel itu mengatakan peristiwa itu berlangsung cukup dramatis.

baca juga: kisah inspirasi Ade Armando

Seorang sumber mengatakan Jokowi terlihat sedih ketika mesti memberhentikan salah satu menterinya itu. Di akhir pertemuan antara Jokowi, Andrinof dan Wakil Presiden Jusuf Kalla, Jokowi disebut memeluk Andrinof dengan mata yang berkaca-kaca. “Tetap saya akan bantu Bapak selama arah pembangunan ke arah lebih baik berlandaskan Trisakti," kata Andrinof.

Setelah melepas jabatan menteri, Andrinof kini memiliki berbagai kesibukan. Selain kembali aktif sebagai dosen di almamaternya, ia juga menjadi Komisaris Utama PT Angkasa Pura I. Posisi Ketua Persepi juga masih diembannya. “Di sela-sela tiga jenis kegiatan tersebut, waktu yang masih ada saya alokasikan untuk memenuhi permintaan berdiskusi, bersilaturrahim atau mengisi acara seminar,” kata Andrinof kepada Tribunnews[5].

Andrinof Chaniago agaknya telah membuktikan bahwa apa yang kamu tekuni saat ini dapat berbuah manis di keesokan hari. Dunia riset dan penelitian yang disukai Andrinof sejak kuliah mampu melambungkan karirnya hingga menduduki kursi menteri. Simak kisah tokoh-tokoh inspiratif lainnya bersama Kinibisa!


[1] https://tokoh.id/biografi/2-direktori/mengusung-visi-indonesia-2033/
[2] http://www.antaranews.com/berita/230656/visi-2033-diluncurkan
[3] https://www.youtube.com/watch?v=yRTIWrqV6as
[4] https://news.detik.com/berita/2994324/kisah-andrinof-chaniago-kawan-lama-jokowi-yang-hilang-dari-istana
[5] http://jambi.tribunnews.com/2016/10/22/ini-cerita-andrinof-chaniago-setelah-tak-jadi-menteri?page=all