span 1 span 2 span 2

Inspirasi

Ade Armando: Mengedukasi Masyarakat dengan Media
Oleh : Nanda Aulia Rachman
25 April 2018

Highlight

Pemberitaan dalam media masa harus objektif dan berimbang, tidak boleh kami menutup nutupi dari satu sisi, dan disisi lain kami juga jangan hanya menonjolkan secara sepihak.

Ade Armando
Seorang dosen dan pakar komunikasi asal Universitas Indonesia. Ia juga dikenal sebagai mantan dan jurnalis.
Sumber: cdn.metrotvnews.com

Media massa, baik disadari atau tidak, mempunyai peranan penting bagi negara dan masyarakat. Kali ini Kinibisa akan menyorot sosok akademisi yang aktif berkecimpung di ekosistem media Indonesia, Ade Armando. Ia adalah dosen sekaligus pakar komunikasi asal Universitas Indonesia.



"Media menentukan apa yang diketahui dan tidak diketahui, bagaimana menafsirkan realita serta bagaimana masyarakat bersikap. Ia (media) mulai lupa fungsinya, karena aspek hiburan yang diutamakan bukan substansinya."

Dr. Ade Armando, MSc. lahir di Jakarta, 24 September 1961. Ia merupakan salah satu tokoh yang mempunyai kontribusi besar baik di bidang akademis maupun praktis. Ia sendiri merupakan seorang pakar komunikasi yang berprofesi sebagai pengajar dan jurnalis. Ade Armando dikenal sebagai akademisi, dan aktifis media di Indonesia yang sangat kritis. Ade merupakan pribadi yang mempunyai idealisme yang tinggi terhadap jurnalisme.

Jejak Sebagai Penimba Ilmu
 

kredibilitas
Kredibilitas Ade Armando soal Komunikasi sudah tidak perlu dipertanyakan lagi.
Sumber: static.republika.co.id

Semasa mudanya, Ade Armando sudah mengenal kerasnya dunia. Ayahnya, Jus Gani, yang berprofesi sebagai diplomat terpaksa harus turun setelah terkena dampak runtuhnya rezim Soekarno. Ia harus mengalami masa-masa suram saat itu. Ia harus membantu menafkahi keluarganya dengan berbagai cara. Semasa berkuliah, lelaki berdarah Minang ini mengaku bahwa dirinya pernah berjualan rempeyek untuk membantu beban finansial keluarga untuk membiayai kuliahnya.

Perjuangannya ia mulai sejak pagi ketika berangkat dari Bogor menuju kampusnya ke Rawamangun. “Agar rempeyeknya tidak hancur, saya harus memilih bus yang tempat duduk bagian pojoknya masih kosong. Tujuannya agar saya tidak bergelantungan dalam bus dan berdesakan dengan para penumpang yang lain,” kenang suami Nina Armando ini dikutip dari Majalah Madina (16/09/2009)

Ade muda menempuh pendidikannya di berbagai tempat. Mulai dari jenjang sekolah dasar di Bandung, jenjang sekolah menengah di Bogor dan berkuliah di Universitas Indonesia, Depok. Pada awalnya Ade ingin berkuliah di Ilmu Politik untuk mengikuti jejak ayahnya sebagai diplomat. Namun semua itu terhalang oleh nilai mata kuliah Ilmu Pengantar Politiknya yang rendah. Akhirnya ia memutuskan untuk mengambil program studi Komunikasi

Ade mulai menemukan gairah hidupnya di sini. Kebiasaan kecil Ade menggunting menggunting artikel-artikel koran dan menempelnya kembali lalu menulis pengantarnya, seolah menemui tempatnya di program studi yang ia jalani. Nilai-nilai mata kuliah komunikasi massa dan jurnalismenya mentereng. Ia seperti menemukan dunianya, apalagi sejak bergabung dalam penerbitan mahasiswa, Warta UI.

Setelah berhasil menyelesaikan pendidikannya di bidang sarjana, Ade meneruskan pendidikannya ke Amerika Serikat pada pada 1991. Di sana, ia mengambil program master dalam bidang studi kependudukan di Florida State University. Setelah berhasil menyelesaikan program masternya, ia terus melanjutkan program doktornya di program studi Komunikasi Universitas Indonesia pada tahun 2006.

Karir di Media
 

Karir di media
Merupakan salah satu akademisi yang aktif menyampaikan gagasannya lewat berbagai media.
Sumber: images2.tempo.co

“Pemberitaan dalam media masa harus objektif dan berimbang, tidak boleh kami menutup nutupi dari satu sisi, dan disisi lain kami juga jangan hanya menonjolkan secara sepihak” jelas Ade kepada Majalah Madina (16/06/2009). Itulah penggalan wawancara yang sekiranya dapat menggambarkan pandangan mantan anggota Komisi Penyiaran Indonesia tahun 2004-2007 soal praktik jurnalisme dan media di Indonesia.

Sebelum menempuh program pascasarjana di Florida, Ade sempat menjadi anggota redaksi Jurnal Prisma pada 1988. Ade memang diketahui dengan ketertarikan dan kemampuannya dalam bidang jurnalistik. Sekembalinya ia dari Amerika Serikat, anak pasangan Jus Gani dan Juniar Gani ini bergabung dengan harian Republika dan menempati posisi sebagai redaktur. Ia mengakui bahwa dirinya ingin memasukkan nilai-nilai islam pada media massa.

Akan tetapi, karena kekecewaan, ia memutuskan untuk mengundurkan diri dari koran tersebut pada 1998. Ia keluar disaat rezim Soeharto masih bertakhta. “Saya melihat tekanan politiknya jadi jauh lebih besar, sedangkan media harus menyajikan berita secara obyektif,” tutur Ade, yang menggemari kelompok musik hard rock Deep Purple, dikutip dari majalah Madina (16/06/2009). Selain sebagai redaktur koran, Ade Armando meniti karir dan meraih penghargaan di berbagai bidang lainnya seperti;

  1. Karier
    • Anggota Redaksi Jurnal Prisma (1988-1991)
    • Redaktur Penerbitan Buku LP3ES (1991-1993)
    • Redaktur Harian Republika (1993-1998)
    • Manajer Riset Media di perusahaan riset pemasaran transnasional, Taylor Nelson Sofres (1998-1999)
    • Direktur Media Watch & Consumer Center (2000-2001)
    • Anggota Kelompok Kerja Tim Antardepartemen RUU Penyiaran, Kementrian Negara Komunikasi dan Informasi (2001)
    • Ketua Program S-1 Ilmu Komunikasi FISIP UI (2001-2003)
    • Direktur Pengembangan Program Pelatihan Jurnalistik Televisi-Internews (2001-2002)
    • Anggota Komisi Penyiaran Indonesia (2004-2007)
    • Anggota tim asistensi bagi Kementrian Pemberdayaan Perempuan dalam penyiapan naskah Rancangan Undang-undang Pornografi (2007-2008)
    • Pemimpin Redaksi Madina-online.net, sebuah versi dunia maya dari majalah Madina yang dipimpinnya (2008-2009)
    • Direktur Komunikasi, Saiful Mujani Research and Consulting (2014-sekarang)
       
  2. Organisasi
    • Pendiri Lembaga Media Ramah Keluarga (MARKA) (1998)
    • Media Watch and Consumer Center the Habibie Center (MWCC) (1999)
    • Masyarakat Tolak Pornografi (MTP) (2001)
    • Koalisi Masyarakat Komunikasi dan Informasi (MAKSI) (2009)
    • Koalisi Nasional Reformasi Penyiaran (2016)
       
  3. Karya tulis
    • Televisi Jakarta di Atas Indonesia (2011)
    • Televisi Indonesia di Bawah Kapitalisme Global (2016)
       
  4. Penghargaan
    • Wakil Indonesia dalam “International Visitor Leadership Program” yang diselenggarakan oleh Kedutaan Besar Amerika Serikat (Februari 2005)
    • Terpilih sebagai salah satu dari 106 Nama Pemimpin Muda Indonesia oleh Partai Keadilan Sejahtera (November 2008)
Bukan Media Darling
 

bukan media daring
Komentar pedas Netizen sudah jadi makanan sehari-hari Ade Armando
Sumber: indowarta.com

Lelaki yang aktif di media massa Indonesia ini juga turut aktif berceloteh di dunia maya. Sebagai akademisi yang kritis dan terbuka, tidak jarang tulisannya menimbulkan perdebatan. Layaknya tweetwar, kontroversi Bang Ade, sapaan akrab dari mahasiswanya, bukanlah sebuah hal baru. Semua itu hanyalah ketidakpahaman komunikasi yang menimbulkan ambiguitas semata. Perkataan pedas dan mencolot merupakan hal yang sudah lazim tercantum di berbagai kolom komentar tulisannya di media sosial

baca juga: kisah inspirasi Saiful Mujani

Walaupun begitu Bang Ade sendiri tidak mau ambil pusing soal ini. Alhasil, kasusnya diberhentikan karena tak memenuh standar sebagai pelanggaran pidana. Bang Ade juga selalu menekankan di berbagai kesempatan bahwa kita harus tetap aktif sebagai khalayak untuk dalam mengawasi media baik itu konvensional maupun sosial.

“Media menentukan apa yang diketahui dan tidak diketahui, bagaimana menafsirkan realita serta bagaimana masyarakat bersikap. Ia (media) mulai lupa fungsinya, karena aspek hiburan yang diutamakan bukan substansinya.” jelasnya kepada AntaraNews (12/06/2013)

Sosok Ade Armando yang lugas, kritis, tetap terbuka dapat menjadi sebuah tolak ukur terhadap kebebasan berpendapat di Indonesia. Ocehannya yang tegas, konsisten, objektif dan tanpa pandang bulu seharusnya dapat memberikan kita gambaran akan isu-isu sensitif namun penting untuk dibicarakan. Ungkapan ‘Talk Less Do More’ agaknya pantas disematkan pada sosok Ade. Simak kisah inspiratif tokoh-tokoh lainnya bersama Kinibisa!