span 1 span 2 span 2

Inspirasi

Tontowi Ahmad: Atlet Badminton Peraih Emas Olimpiade
Oleh : Nanda Aulia Rachman
24 April 2018

Highlight

Sometimes you win, sometimes you learn.

Tontowi Ahmad
Merupakan atlet bulutangkis andal asal Indonesia yang telah meraih medali emas di Olimpiade Rio de Janeiro 2016.
Sumber: djarumbadminton.com

Lelaki asal Pemalang ini merupakan salah satu olimpian yang berhasil mengibarkan sang saka merah putih di Rio De Janeiro 2016. Bersama Liliyana “Butet” Natsir, ia menjadi salah satu talenta badminton terbaik tanah air di nomor ganda campuran. Simak kisah inspiratif Tontowi Ahmad bersama Kinibisa!



"Cik fokus Cik, jangan tegang Cik, percaya sama saya Cik. Cik, tos dulu Cik. Semangat Cik!"

Tontowi Ahmad lahir di Banyumas, 18 Juli 1987. Dia adalah seorang pebadminton Indonesia yang mempunyai spesialisasi di nomor ganda campuran. Tontowi mulai dikenal dan meraih banyak gelar ketika dipasangkan dengan Liliyana ”Butet” Natsir. Bersama Butet, ia sempat menduduki peringkat dua ganda campuran dunia versi BWF dan menyabet medali emas Olimpiade Musim Panas 2016 di Rio De Janeiro, Brazil.

Ia memulai karir badmintonnya di Jawa Tengah, tepatnya di PB Djarum. Ia bergabung dengan klub badminton asal kudus ini pada tahun 2005. Bergabungnya lelaki yang mulai bermain badminton sejak umur delapan tahun ini mengharuskan dirinya untuk pergi dari Pemalang, tempat tinggalnya.

Anak dari pasangan M. Khusni dan Masruroh selanjutnya pindah ke Pelatnas Cipayung. Dia menjadi pemain pelapis utama ganda campuran. Sebelum berpasangan dengan Liliyana, lelaki yang akrab dipanggil Owi ini pernah berpasangan bersama Greysia Poli, Richi Puspita Dili dan Shendy Puspa Irawati dan Yulianti. Ia memenangkan beberapa kompetisi bersama mereka seperti Vietnam Open Grand Prix 2007 dan Vietnam Challenge 2009.

Disandingkan dengan Butet
 

Disandingkan dengan Butet
Merayakan kemenangannya pada laga final ganda campuran bulutangkis Olimpiade Rio De Janeiro 2016.
Sumber: poskotanews.com

Ide pemasangan Owi dan Butet datang dikarenakan Nova Widianto, pasangan Butet saat itu, sudah mendekati usia untuk pensiun. Nova menginjak usia 35 tahun pada tahun 2010. Owi tidak mendapatkan posisi itu dengan mudah. Ia harus bersaing dengan Fran Kurniawan, Muhammad Rijal dan Devin Lahardi.

Tontowi Ahmad resmi menjadi partner Liliyana Natsir pada pertengahan tahun 2010. Tidak butuh waktu lama, duo ini langsung menunjukkan tren positif. Keduanya berhasil memenangkan Macau Open 2010. Mereka mengalahkan rekan senegara mereka Hendra Gunawan dan Vita Marisa dua set langsung, 21-14, 21-18.

Bersama Butet, Owi menyandang berbagai prestasi gemilang. Ia bersama Liliyana berhasil mematahkan rekor buruk kontingen Garuda di All England 2012. Gelar sebelumnya dibawa pulang oleh Christian Hadinata dan Imelda Wiguna. Mereka berhasil membawa pulang gelar itu untuk tiga tahun berturut-turut di tahun 2012 sampai dengan 2014.

Gelar BWF Grandprix, Superseries, sampai kejuaraan dunia telah mereka raih. Tak lupa mereka berikan kemenangan mereka untuk Indonesia, mulai dari tingkat regional asia sampai dunia. Satu raihan yang paling membanggakan untuk mereka dan rakyat Indonesia adalah raihan medali emas di Olimpiade Rio De Janeiro 2016.

Persiapan intens selama sebulan dilakukan oleh Owi/Butet. Karantina di Kudus dan Sao Paulo membuahkan hasil. Walaupun ini merupakan ajang Olimpiade keduanya, Tontowi tetap tak bisa menyembunyikan ketegangan dan kekhawatirannya. Ia mengandalkan pasangannya untuk membantunya menenangkan diri sebelum tiap kali bertanding.

Lelaki dengan tinggi 178 cm tersebut menganggap Liliyana memiliki ketenangan yang baik, secara partnernya ini berusia dua tahun lebih tua. “Cik (panggilan Butet) fokus Cik, jangan tegang Cik, percaya sama saya Cik. Cik, tos dulu Cik. Semangat Cik,” ujar Tontowi saat jelang gelaran final dikutip dari Jawa Pos (21/08/2016).

Ungkapan semangatnya itu sebenarnya menjadi dalih di belakang kegelisahannya. Tepat pada hari kemerdekaan Indonesia ke-71 tahun, venue Riocentro-Pavilion 4, Barra de Tijuca menjadi saksi sejarah Indonesia. Tontowi Ahmad dan Liliyana Natsir berhasil membawa medali emas setelah mengalahkan pasangan Malaysia, Peng Soon Chan/Liu Ying Goh dengan dua set langsung, 21-14 21-12.

Pasca Olimpiade Rio 2016


Pasca Olimpiade Rio 2016
Kepulangan Owi dan Butet setelah sukses meraih medali emas Olimpiade Rio 2016.
Sumber:
tstatic.net

Pasca Olimpiade, mereka disambut ramai-ramai di tanah air. Sorak sorai menghiasi kedatangan mereka dari Brazil. Keduanya diberikan bonus sebesar Rp. 5 milyar oleh Menpora Imam Nahrawi. Suami dari Michelle Nabila Harminc ini juga mendapatkan berbagai apresiasi dari berbagai pihak seperti;

  • Uang Rp. 1 milyar dan sebuah TV LED 65 inch dari PB Djarum
  • Rumah tinggal di Semarang senilai Rp 1,5 milyar dari PB Djarum
  • Tiket pesawat gratis seumur hidup untuk rute kemana saja dari Air Asia
  • Asuransi kesehatan senilai Rp. 1 milyar dari BNI Life
  • Apartemen di Bandung senilai Rp 1, 452 milyar dari PBSI
  • Tunjangan pensiun sebesar Rp 20 juta/bulan dari pemerintah

Tontowi Ahmad
Ketika menghadiri acara penghargaan yang diselenggarakan Kementerian Pemuda dan Olahraga.
Sumber:
static6.com

Tontowi Ahmad dan Liliyana Natsir tidak diberikan target khusus untuk sisa tahun itu. Hal ini dijelaskan oleh Pelatih Kepala Ganda Campuran Richard Mainaky. ”Saya menyadari permainan mereka tidak mungkin maksismal setelah Olimpiade. ”Karena itu, saya tidak mau membebani mereka dengan target supaya mereka tetap fresh dan bisa menikmati pertandingan,” paparnya kepada Juara (04/11/2016).

Kedepannya, kedua pasangan ini rencananya akan dipisah jelas Richard. Tujuannya untuk memberikan pengalaman baru bagi pemain muda. ”Yang penting, mereka menikmati pertandingan karena tujuannya adalah berbagi ilmu dan pengalaman. Sementara Tontowi jika bermain konsisten, dia masih bisa diproyeksikan untuk Olimpiade 2020,” tutur Richard dilansir dari Juara (04/11/2016).

Ayah dari Danish Arsenio Ahmad ini sejak saat itu dipasangkan dengan pemain muda pelatnas, Gloria Emanuelle Widjaja sejak awal 2017. “Gloria masih muda (22 tahun). Dia lebih agresif,” kata Tontowi saat ditemui tim Juara (30/12/2016). Walaupun Gloria dianggap sebagai orang “ketiga”, Owi/Butet tetap diproyeksikan untuk Asian Games 2018.

baca juga: kisah inspiratif Liliyana Natsir

Pasangan Owi/Gloria yang sekarang menempati posisi 134 dunia (11 Maret 2017), menurut Susy Susanti, dapat menjadi proyek jangka panjang ganda campuran Indonesia. Sekarang ini, pasangan ini dikirimkan ke Australia sebagai kontingen Indonesia di Piala Sudirman 2017. Meskipun tanpa Liliyana, Owi pastinya akan mengerahkan kemampuan terbaiknya untuk mengharumkan nama Indonesia.

Kisah perjuangan Tontowi Ahmad di dunia bulutangkis tentu dapat menjadi inspirasi bagi kita semua. Perjuangannya selama ini dapat menginspirasi kita untuk selalu berjuang demi mengharumkan Indonesia. Simak kisah tokoh inspiratif lainnya bersama Kinibisa!