span 1 span 2 span 2

Inspirasi

Rio Haryanto: Membuka Peluang Indonesia di Kancah Internasional
Oleh : Ardito Ramadhan
09 Mei 2018

Highlight

Kita mesti punya cita-cita, cita-cita itu awal dari keinginan.

rio haryanto
Rio Haryanto merupakan seorang pembalap andal asal Indonesia yang menjadi pembalap Indonesia pertama yang berlaga pada Formula One, kompetisi balap paling bergengsi.
Sumber: detik.com

Kamu semua pasti pernah mendengar nama Rio Haryanto. Bagaimana tidak, anak muda ini merupakan orang Indonesia pertama yang pernah mengikuti ajang balapan mobil paling bergengsi di dunia, Formula 1. Keberhasilan itu merupakan hasil perjuangan Rio yang telah akrab dengan mobil balap sejak kecil. Apakah kamu penasaran kisah perjuangan Rio? Ayo simak ceritanya bersama Kinibisa!



"Banyak orang yang cepat puas, jadi buat aku disiplin sangat membantu untuk konsisten menjadi juara terus."

Suka Balapan Sejak Kecil
 

Rio Haryanto lahir pada 22 Januari 1993 di Solo, Jawa Tengah. Bakat balap Rio agaknya berasal dari ayahnya yang bernama Sinyo Haryanto. Sang ayah adalah seorang pebalap veteran nasional yang aktif hingga 2003. Selain ayahnya, kakak-kakak Rio juga mempunyai pengalaman sebagai pebalap. Rio sendiri merupakan anak bungsu dari dari empat bersaudara.

 "Papinya itu membalap sampai tahun 2003. Jadi Roy, Kiki, Rian (kakak Rio) dan Rio membalap didampingi Papinya terus sampai tahun 2003," ujar Penny, ibu Rio, dikutip dari Liputan 6.[1]Berkat pengaruh keluarganya yang menyukai balap, bakat Rio dalam beradu cepat pun sudah terlihat sejak ia kecil. “Jadi Rio memang ada darah dan bakat untuk membalap ya,” kata Penny menambahkan.

Rio mulai mengenal mobil pada usia enam tahun ketika ia mengemudikan gokart dan mengikuti lombanya pada 1999. Rio pun keluar sebagai juara nasional kelas kadet pada tahun itu. Sejak kecil, Rio juga telah mengenal risiko dari olahraga balap. Pada usia enam tahun ia mengalami kecelakaan  saat bermain gokart di arena latihan balap di Solo, Jawa Tengah.

sejak kecil rio suka balapan
Rio kecil berfoto bersama pembalap legendaris asal Jerman, Michael Schumacher. Schumacher merupakan sosok yang menginspirasi Rio untuk menjadi pembalap.
Sumber: mobilinanews.com

“Saya latihan gokart di sebuah parkiran di Solo tiba-tiba ada motor balap liar masuk ke sirkuit gokart,” kata Rio dalam program Satu Indonesia NET.[2] Akibat kecelakaan itu, Rio mesti dioperasi di Singapura karena mengalami patah tulang. Meski begitu, insiden itu tidak menghentikan mimpi Rio menjadi pembalap. “ Tidak sama sekali, kecelakaan terjadi tapi nggak ada rasa takut tapi malah ingin lebih baik lagi,” kata Rio.

Setelah kecelakaan tersebut, karir Rio dalam balap gokart justru semakin moncer. Selama tujuh tahun hingga 2006, ia berhasil memenangkan berbagai kejuaraan di tingkat nasional. Oleh sebab itu, Ikatan Motor Indonesia (IMI) menganugerahi Rio penghargaan Atlet Gokart Junior Terbaik pada tahun 2005 dan 2006. Kesuksesannya di tingkat nasional membuat laki-laki yang mengidolai sosok Ayrton Senna itu melanjutkan karirnya ke tingkat internasional.

Menapaki Karir Internasional
 

menang gp2
Rio ketika memenangkan sebuah balapan dalam ajang GP2.
Sumber: formula1.com

Pada 2006, Rio Haryanto memenangkan kejuaraan balapan internasional pertamanya yaitu Asian Open Karting Championship 2006 yang digelar di Makau. Kemenangannya saat itu membuat nama Rio semakin dikenal oleh dunia balap. Dua tahun kemudian, ia memulai karir profesionalnya di dunia jet darat ketika mengikuti ajang Formula Asia 2.0.

Di tahun pertamanya dalam ajang tersebut, Rio berhasil menduduki peringkat ketiga hasil kemenangan dalam satu balapan serta tujuh kali masuk podium. Kemenangannya kian spesial mengingat saat itu Rio baru berusia 15 tahun. Musim berikutnya, laki-laki yang suka memasak ini mengikuti berbagai kejuaraan balap seperti Asian Formula Renault Challenge, Australian Drivers Championship, serta Formula BMW tingkat Eropa dan Pasifik.

Prestasinya di ajang Formula BMW Pacific rasanya menjadi yang terbaik bagi Rio. Dari 15 kali balapan, Rio berhasil memenangkannya 11 kali dan mampu masuk podium sebanyak 12 kali. Tak heran, ia akhirnya keluar sebagai juara umum kejuaraan itu. Kesuksesan Rio membuat dirinya semakin dekat dengan impiannya berlaga di ajang Formula Satu.

Pada 2010, Rio bergabung dengan tim Manor Racing untuk mengikuti kejuaraan GP3 Series. Penampilan perdana Rio dalam kejuaraan itu berakhir positif, ia meraih peringkat kelima saat musim berakhir. Pada musim itu, ia membukukan satu kemenangan serta masuk podium sebanyak tiga kali. Di balik satu-satunya kemenangan yang diraih Rio rupanya terdapat sebuah cerita yang sedikit menggelitik.

Ketika itu, kemenangan Rio yang didapat di balapan kedua di Turki sepertinya tidak diprediksi oleh panitia. Akibatnya, bendera Indonesia yang mestinya berkibar diganti dengan bendera Polandia yang dipasang terbalik. Tak hanya itu, Rio pun terpaksa menyanyikan lagu Indonesia Raya tanpa iringan musik karena panitia tak menyediakan lagu kebangsaan Indonesia itu.

Banyak pihak menyebut kejadian tersebut sebagai bentuk penghinaan bagi bangsa Indonesia. Namun, Rio justru mengambil hikmah positif dari peristiwa itu. Bagi Rio, kejadian itu membuatnya lebih tegar dan memotivasi dirinya agar bisa lebih baik lagi dan tidak dipandang sebelah mata oleh bangsa lain.

Pada tahun itu pula Rio mendapat kesempatan untuk menjajal mobil F1 milik tim Marussia Virgin Racing di Abu Dhabi. Kesempatan ini ia peroleh berkat statusnya sebagai pembalap Manor terbaik di ajang GP3 musim itu. Sayangnya, Rio mengalami kendala teknis yang membuat ia mesti finis di posisi buncit pada event test drive itu.

Musim berikutnya, ia mampu memperbaiki prestasinya di GP3 dengan dua kemenangan dan empat kali masuk podium. Namun, secara urutan ia mesti turun dua peringkat ke peringkat tujuh. Berkat pengalamannya di ajang GP3 selama dua tahun, Rio ‘naik kelas’ ke GP2 pada 2012. Dengan itu, ia semakin dengan impiannya untuk menjadi pembalap F1.

Semakin Dekat dengan Impian
 

naik ke F1Rio berpose di depan salah satu mobil yang ia gunakan pada ajang GP2.
Sumber: sport.fajar.co.id

Bergabungnya Rio ke ajang GP2 tentu mendekatkannya dengan impiannya menjadi pembalap F1. Dalam GP2, para pebalap sudah mendapatkan pengalaman selayaknya pengemudi F1. Sirkuitnya pun sudah berstandar F1 lengkap dengan infrastruktur dan fasilitas medisnya. Pembalap F1 pun umumnya merupakan ‘alumni’ dari GP2, beberapa di antaranya adalah Lewis Hamilton, Nico Rosberg, dan Pastor Maldonado.

Petualangan pertamanya di GP2 dijalani bersama tim Carlin yang berasal dari Inggris. Malang, musim pertama Rio tidak berakhir manis karena tak sekali pun berhasil masuk podium. Meski begitu, pada musim yang bersamaan Rio mendapat FIA Superlicense, lisensi yang wajib dimiliki untuk pembalap yang ingin mengikuti F1. Rio tercatat sebagai orang Indonesia pertama yang memiliki lisensi tersebut.

Prestasi Rio di ajang GP2 rupanya tidak secemerlang kiprahnya di ajang GP3. Selama empat musim, Rio ‘hanya’ mencatat tiga kemenangan dari puluhan lomba yang dijalani. Tiga kemenangan itu pun diraih Rio pada musim 2015 ketika ia memperkuat tim Campos. Musim 2015 agaknya menjadi musim terbaik Rio di turnamen ini. Selain tiga kemenangan, ia juga masuk podium sebanyak lima kali. Hasilnya, ia menduduki posisi keempat pada akhir musim.

Berkat raihan tersebut, bekas timnya, Manor, kembali melirik Rio untuk memperkuat tim itu di ajang F1 musim berikutnya. Kabar ini tentu merupakan kabar yang membahagiakan bagi Rio Haryanto, keluarganya, dan juga bangsa Indonesia. Namun, ternyata masih ada syarat yang mesti dipenuhi Rio sebelum dapat berlaga di ajang balapan termahsyur itu. Rio diwajibkan membayar uang sebesar 15 juta Euro kepada tim Manor Racing agar dapat mengikuti kejuaraan F1 di bawah tim itu.

Dalam dunia F1, pembalap yang tergabung dalam tim kecil seperti Manor memang lazim dimintai uang untuk membiayai operasionalnya sepanjang musim balapan. Pembalap seperti itu biasanya disebut ‘pay-driver’. Pembalap kenamaan pun kebanyakan mengawali karirnya sebagai ‘pay-driver’ seperti Michael Schummacher, Fernando Alonso, dan Nikki Lauda.

Guna memenuhi permintaan Manor tersebut, berbagai pihak di Indonesia mulai mengumpulkan dana yang senilai 221 milyar Rupiah itu. Kiky Sports, manajemen yang menaungi Rio, nekat meminjam uang sebesar 3 juta Euro sebagai uang muka pendaftaran Rio. Sementara itu, Pertamina, perusahaan yang telah lama mensponsori Rio, bersedia menggelontorkan uang sebanyak 5,2 juta Euro yang dibayar secara bertahap.

Pemerintah melalui Kementerian Pemuda dan Olahraga pun tidak mau lepas tangan. Menteri Pemuda dan Olahraga, Imam Nahrawi, mengajukan dana APBN sebesar 100 milyar Rupiah kepada DPR demi membiayai Rio. Sayangnya, para wakil rakyat kurang setuju apabila dana sebanyak itu dikucurkan hanya untuk Rio. Alasannya, hal itu dapat menimbulkan kecemburuan dari cabang-cabang olahraga lain yang merasa kurang diperhatikan.

Setelah menunggu beberapa waktu, Menpora Imam Nahrawi akhirnya memastikan bahwa Rio dapat tampil di F1 musim 2016. "Rio Haryanto sudah dipastikan bisa masuk ke F1 pada 2016. Semoga bisa full race,” kata Imam dikutip dari Bola.com[3]. Imam menuturkan pihaknya mengeluarkan uang sebesar Rp 100 miliar yang didapat dari berbagai BUMN dan BUMS di Indonesia.

Balapan di F1 Walau Singkat
 

memacu mobil
Rio tengah memacu mobilnya dalam sebuah perlombaan F1.
Sumber: autoweek.com

Rio Haryanto menjalani debutnya sebagai pembalap F1 pada GP Australia yang digelar di Melbourne pada Maret 2016. Sayangnya, debut Rio berakhir pahit setelah ia hanya menyelesaikan 17 putaran dari 57 putaran. Bagi Rio, kegagalan itu adalah pelajaran berharga baginya. Ini pelajaran yang berharga. Dan di luar kontrol saya. Dalam latihan tak ada masalah dengan mobil saya, " katanya kepada Tribun.[4]

Namun sayang penampilan Rio di ajang F1 tak kunjung membaik. Sepanjang 12 GP yang dilakoninya, tak sekali pun ia menembus sepuluh besar. Akibatnya, ia tidak memperoleh poin sedikit pun dan mesti duduk di posisi buncit klasemen pembalap. Sepertinya, ia masih belum mampu bersaing dengan pembalap F1 yang lebih berpengalaman.

Selain masalah teknis di atas, rupanya masalah keuangan masih menghantui Rio. Pasalnya, hingga pertengahan musim Rio belum memperoleh suntikan dana sponsor untuk melunasi sisa pembayaran kepada pihak Manor. “Kami harusnya sudah memberikan konfirmasi mengenai Rio untuk setengah musim berikutnya, karena kalau tidak, Manor berhak mencari pebalap pengganti Rio," kata Penny, ibu Rio, dikutip dari Otomania.[5]

Pada Agustus 2016, akhirnya Rio resmi berhenti dari kejuaraan F1 karena setelah posisinya digantikan pembalap Prancis, Esteban Ocon. "Kami memberikan dukungan penuh kepada mereka (manajemen Rio Haryanto), termasuk memberikan kesempatan kepada Rio membalap di Jerman. Sayangnya, kami sudah mencapai titik di mana kami harus mencari opsi lain untuk sisa musim ini demi kebaikan tim," kata Dave Ryan, Racing Manager Manor dikutip dari Bintang.[6]

Setelah mengakhiri musim balapnya di tengah jalan, nama Rio belum muncul kembali di kancah balap mobil. Namanya pun tidak terlihat dalam daftar pembalap F1 musim 2017. Padahal, ia sempat diisukan akan kembali mengaspal pada 2017.

Sisi Lain Rio yang Religius dan Sederhana
 

religius dan sederhana
Rio merupakan sosok yang religius dan sederhana.
Sumber: cloudfront.net

Di balik penampilannya yang garang ketika memacu mobil formula, siapa sangka bahwa Rio adalah sosok yang religius. Di setiap mobil balap yang ia kendarai, selalu terselip selembar kertas yang bertuliskan Ayat Kursi. Rio mengaku tidak pernah absen membaca ayat itu sebelum berlomba. “Aku merasa lebih nyaman, sebelum race aku selalu baca itu,” kata Rio.

Selain dukungan spiritual, Rio mengaku orangtuanya juga turut andil dalam kesuksesannya hingga saat ini. Rio menuturkan orang tuanya selalu hadir dalam perlombaan yang dilakoni Rio. “Orang tua selalu hadir di setiap race. Tentunya dengan adanya orang tua aku merasa nyaman,” kata Rio.

Rio juga dikenal mempunyai jiwa sosial yang tinggi. Bersama keluarganya, ia mengelola sebuah pondok pesantren bagi anak yatim yang telah berdiri sejak lama. Jiwa sosial Rio agaknya terpengaruh dari sosok Ayrton Senna yang ia idolai. “Dia memiliki yayasan buat anak-anak yatim di Brasil. Saya senang sekali melihat seorang yang sukses tapi tidak lupa dengan orang-orang yang mengalami kesulitan,” kata Rio.

Sosok Senna juga menjadi inspirasi Rio untuk menekuni dunia balap. Seperti Senna yang membawa nama harum negaranya, Brasil, Rio pun berharap dapat mengharumkan Indonesia di dunia balap. “Waktu itu Brasil lagi crisis dia adalah pahlawan buat Brasil yang bisa membawa nama Brasil hingga ia menjadi juara dunia. I think it gives people in Brazil such a hope, a new energy and motivation,” kata Rio.

baca juga: kisah inspiratif Chris John

Di samping itu, Rio pun memiliki pesan khusus yang ingin disampaikannya kepada anak-anak muda Indonesia. Menurut Rio, setiap anak muda mesti mempunyai cita-cita. “Kita mesti punya cita-cita, cita-cita itu awal dari keinginan,” kata Rio. Ia juga menyebut anak-anak muda tidak boleh cepat puas ketika meraih keberhasilan. “Banyak orang yang cepat puas, jadi buat aku disiplin sangat membantu untuk konsisten menjadi juara terus,” katanya menambahkan.

Begitulah kisah perjalanan Rio sejak kecil hingga berhasil meraih cita-citanya menjadi pembalap F1. Siapa sangka di balik keberaniannya memacu jet darat, Rio merupakan sosok yang religius dan mempunyai jiwa sosial tinggi. Semoga cerita Rio dapat memotivasimu dalam meraih cita-cita ya! Yuk,  bersama Kinibisa wujudkan #GenerasiKompeten.


[1] http://bola.liputan6.com/read/2441374/mengenal-keluarga-balap-rio-haryanto-di-solo
[2] https://www.youtube.com/watch?v=DlVcmIt9Tu4
[3] www.bola.com/f1/read/2435380/menpora-rio-haryanto-dipastikan-tampil-di-f1-2016-bersama-manor
[4] http://www.tribunnews.com/sport/2016/03/20/debut-tak-manis-di-melbourne-rio-haryanto-saya-konsentrasi-ke-bahrain
[5] http://www.otomania.com/read/2016/05/24/170500230/dana.kurang.rio.haryanto.pasrah.terusir.dari.f1
[6] http://www.bintang.com/lifestyle/read/2574149/kontrak-pebalap-rio-haryanto-diputus-manor-racing-di-f1