span 1 span 2 span 2

Inspirasi

Liliyana Natsir: Bawa Harum Nama Indonesia Dengan Kok Dan Raket
Oleh : Nanda Aulia Rachman
05 Mei 2018

Highlight

Sebelumnya saya ragu kapan harus berakhir. Tapi setelah diskusi dengan pelatih (Richard Maniaky), sepertinya Asian Games 2018 bisa jadi turnamen terakhir.

butet
Liliyana Natsir.
Sumber: jakpost.net

Indonesia memang dikenal dengan talenta bulutangkisnya sejak dulu. Tokoh inspiratif kali ini merupakan salah satu atlet bulutangkis andalan Indonesia sejak era 2000-an. Berkatnya, lagu Indonesia Raya dikumandangkan di Olimpiade Rio de Janeiro Brazil 2016. Dialah Liliyana “Butet” Natsir. Simak kisah inspiratif Lilyana Natsir bersama Kinibisa!



"Owi harus bisa dewasa. Saat dengan Gloria, dia harus lebih bisa melunak. Begitu juga sebaliknya. Owi tidak bisa memakai gaya lamanya saat berpasangan dengan saya. Dia harus bisa mengontrolnya sekarang."

Liliyana Natsir lahir di Manado, 9 September 1985. Perempuan yang kerap dipanggil Butet ini adalah seorang atlit bulutangkis Indonesia yang telah memenangkan banyak medali di nomor ganda, baik itu ganda putri maupun campuran.

Liliyana merupakan anak bungsu dari pasangan Beno Natsir dan Olly Maramis. Liliyana mulai menjajal olahraga ini sejak dirinya masih duduk di bangku Sekolah Dasar, tepatnya saat ia berusia sembilan tahun. Ia bergabung dengan klub bulutangkis setempat, Pisok. Menginjak usia ke -12 tahun, Liliyana diterima masuk di Perkumpulan Bulutangkis (PB) Tangkas, Jakarta. Lima tahun malang melintang di Jakarta, perempuan asal Manado ini dipanggil ke Cipayung, untuk mengikuti pelatihan intensif di pemusatan latihan nasional (pelatnas).

Dibawah arahan Richard Mainaky, Liliyana mulai menunjukkan tajinya dan mulai mendulang banyak prestasi bagi Indonesia. Sejak debut internasionalnya di tahun 2003, ia telah berpasangan dengan lima pebulutangkis nasional; Vita Marisa, Eny Erlangga, Devin Lahardi Fitriawan, Muhammad Rijal, Nova Widianto, dan Tontowi Ahmad. Namun bersama Nova Widianto dan Tontowi Ahmad, Butet menemukan performa optimalnya.

medali emas di Rio 2016
Butet dan Owi berpose setelah memenangkan medali emas di Olimpiade Rio 2016.
Sumber: olasport.com

Prestasi Liliyana Natsir
 

Liliyana Natsir telah melalui berbagai kompetisi dan pertandingan membela Indonesia di nomor ganda. Kompetisi-kompetisi yang telah diikuti “Butet” di antara lain;

  • Olimpiade Musim Panas
  • Asian Games
  • SEA Games
  • BWF World Championship
  • Badminton Asia Championship
  • BWF Superseries
  • BWF Grandprix
  • Berbagai Turnamen Terbuka

Kiprahnya bersama Nova Widianto di nomor ganda campuran yang melambungkan nama Butet di mata dunia. Bersamanya, ia meraih peringkat pertama pebulutangkis ganda campuran di tahun 2010. Petualangan Butet bersama Nova dimulai pada tahun 2004 di Singapore Open dimana mereka berhasil merengkuh medali emas. Pasangan Butet dan Nova yang bertahan selama enam tahun telah menorehkan banyak prestasi mulai dari Asia Games hingga BWF World Championship.

Akan tetapi, kolaborasi mereka belum dapat menbawa pulang medali emas dari salah satu turnamen tertua dan paling prestise di dunia, All England. Butet dan Nova harus puas dengan raihan medali perak dari dua kali keikutsertaan mereka. Dua-duanya pupus di tangan pasangan Tiongkok, Zheng Bo/Gao Ling di tahun 2008 dan Zhang Nan/Zhao Yunlei di tahun 2010.

berpose
Butet berpose di sebuah lapangan bulutangkis.
Sumber: kemenpora.go.id

Pada September 2010, dunia bulutangkis memperoleh kabar yang menggembirakan. Lilyana Natsir berhasil menebus kegagalannya itu dengan prestasi pasangan barunya, Tontowi Ahmad.

Kemenangan mereka di All England 2012 memupuskan penantian panjang selama 33 tahun sejak terakhir kali Indonesia membawa pulang gelar itu lewat pasangan Christian Hadinata dan Imelda Wiguna. Bersama Tontowi juga, ia menjadi ganda campuran Indonesia pertama yang memenangkan medali emas Olimpiade musim panas di Brazil pada tahun 2016. Prestasi-prestasi yang telah Butet raih selama ini menempatkannya kembali menjadi pasangan ganda campuran terbaik bersama Tontowi Ahmad.

Gaya Bermain Butet
 

owi butet saat di lapangan
Tontowi Ahmad dan Liliyana Natsir saat berlaga di lapangan.
Sumber: kompas.com

Liliyana Natsir dianggap sebagai salah satu pebulutangkis ganda campuran terbaik yang pernah dimiliki Indonesia. Memasuki debut internasional di usia 18 tahun, Liliyana dikenal dengan pemahaman taktik, visi permainan dan dominasi di paruh depan lapangan. Pembawaannya yang tenang dan pekerja keras di lapangan membuatnya menjadi lawan yang sulit ditaklukan.

Tak heran banyak gelar yang telah ia raih. Ia dan Tontowi berhasil mendapatkan gelar juara All England selama tiga tahun berturut-turut sejak 2012. Owi, panggilan Tontowi Ahmad, bahkan mengakui sifat yang dimiliki Butet ini. Di gelaran Olimpiade Musim Panas Brazil 2016, Liliyana berbagi cerita soal kelakuan Tontowi yang terlalu melebihkan “ketenangan” yang dimiliki adik dari Calista Natsir.

 ’’Cik (panggilan Butet) fokus Cik, jangan tegang Cik, percaya sama saya Cik. Cik, tos dulu Cik. Semangat Cik,’’ kenang Butet menirukan Tontowi saat jelang gelaran final di negeri yang dikenal dengan pesepakbolanya dikutip dari Jawa Pos (21/08/2016). Tontowi, yang usianya lebih muda daripada Butet, melakukan itu berkali-kali hingga mereka hendak memasuki venue Riocentro-Pavilion 4, Barra de Tijuca.

Usut punya usut, rasa tegang menjadi alasan Owi terus melakukan hal itu kepada Butet. Butet mengakui bahwa pasangannya itu sangat bergantung dan mengandalkan ketenangan dan kematangannya. “Melihat Butet, saya menjadi adem sendiri. Ketenangannya membuat saya lebih rileks, nggak tegang. Otak jadi tidak kacau dan tetap bisa fokus,’’ ucap Owi memuji pasangannya dilansir dari Jawa Pos (21/08/2016)

Menanggapi pernyataan Tontowi, Butet hanya tertawa tergelak. “Walah, dia pikir saya bisa tenang gitu? Padahal, jantung saya rasanya deg-degan luar biasa. Rasanya sudah mau copot!’’ tambahnya kepada Jawa Pos (21/08/2016) 

Target Liliyana dan Kemungkinan Gantung Raket
 

di pelatnas cipayung
Butet di Pelatnas Cipayung.
Sumber: olasport.com

Di tahun 2017 ini, Liliyana Natsir tidak segarang biasanya. Setelah didera cidera lutut pada semifinal China Open Superseries November 2016, perempuan tomboy ini belum kembali menemukan performanya.

Cidera kembali didapatkan Liliyana menjelang China Open yang berlangsung akhir April 2017. Bahkan, karena sering kambuhnya lutut Butet, Tontowi sempat dipasangkan dengan Gloria Emanuelle Widjaja, pebulutangkis muda Indonesia, di gelaran Malaysia Masters 2017. Keputusan ini diamini oleh Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi pengurus Pusat Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PP PBSI), Susy Susanti. Menurut Susy, pemasangan Owi/Gloria di sektor ganda campuran bisa jadi proyek jangka panjang.

baca juga: kisah inspirasi Taufik Hidayat

Keputusan Susy ini juga diambil melihat Liliyana yang sudah mulai memberikan sinyal untuk mengakhiri karirnya di dunia bulutangkis. ”Sebelumnya saya ragu kapan harus berakhir. Tapi setelah diskusi dengan pelatih (Richard Maniaky), sepertinya Asian Games 2018 bisa jadi turnamen terakhir,” tanggap Butet soal isu pensiunnya dia di dunia bulutangkis kepada Juara.net (03/02/2017). Butet juga mengharapkan Owi untuk lebih dewasa lagi ketika berpasangan dengan Gloria. “Owi harus bisa dewasa. Saat dengan Gloria, dia harus lebih bisa melunak. Begitu juga sebaliknya. Owi tidak bisa memakai gaya lamanya saat berpasangan dengan saya. Dia harus bisa mengontrolnya sekarang,” ujar Butet dilansir dari Juara.net (03/02/2017).

Kisah Lilyana Natsir di atas tentu dapat memotivasi kita untuk terus berjuang dalam mengharumkan nama Indonesia. Butet juga telah menunjukkan bahwa tidak boleh ada kata menyerah dalam berjuang. Buktinya, ia berhasil menjadi pebulutangkis pemenang Olimpiade setelah berkali-kali gagal. Simak kisah tokoh inspiratif lainnya bersama Kinibisa!