span 1 span 2 span 2

Inspirasi

Indra Sjafri: Kerja Keras Mengharumkan Indonesia melalui Sepakbola
Oleh : Ardito Ramadhan
05 Mei 2018

Highlight

Itu bagian dari perjuangan. Saya yakin betul bangsa ini mampu, itu yang membuat saya mau berkorban.

Indra Sjafir
Pelatih Timnas U-19 Indonesia yang sukses membawa Indonesia menjadi juara Asia Tenggara.
Sumber: satupedia.com

Namanya dikenal sebagai sosok yang mengorbitkan bintang sepakbola berbakat, Evan Dimas. Demi mencari pemain-pemain betalenta, ia pun rela blusukan ke pelosok-pelosok Tanah Air. Kerja kerasnya berbuah manis tatkala berhasil mempersembahkan gelar juara bagi negeri yang dicintainya, Indonesia. Simak kisah inspiratif Indra Sjafri bersama Kinibisa!



"Saat SD mulai bermain di tengah sawah. Sehabis panen padi, kita datarkan tanahnya dan kita main di situ atau main di kebun-kebun orang. Pokoknya tiap hari main bola."

Indra Sjafri Muda yang Gagal Jadi Pesepakbola
 

Indra Sjafri lahir pada 2 Februari 1963 di sebuah daerah bernama Lubuk Nyiur yang terletak di Sumatera Barat. Masa kecil dan remaha Indra juga dihabiskan di tanah minang. Indra kecil dikenal sebagai anak yang penurut, pendiam, tapi cukup pintar di sekolahnya. Indra sendiri adalah seorang pemegang titel sarjana ekonomi dari Universitas Andalas, Padang.

Kecintaannya dengan dunia sepakbola telah dimulai sejak kecil. “Saat SD mulai bermain di tengah sawah. Sehabis panen padi, kita datarkan tanahnya dan kita main di situ atau main di kebun-kebun orang. Pokoknya tiap hari main bola,” kata Indra kepada BBC.[1] Keakraban Indra dengan rumput hijau dan kulit bundar membuatnya bermimpi untuk menjadi pemain sepakbola.

Sepakbola menjadi hobi utama yang ia tekuni dengan serius. Memasuki usia SMP, Indra mulai mengikuti berbagai kompetisi antarpemuda di Sumatera Barat. Melalui kompetisi-kompetisi itu, nama Indra pun dikenal sebagai salah satu pemain muda berbakat. Ketika duduk di bangku SMA, Indra pun resmi direkrut klub PSP Padang sebagai salah satu pemain junior mereka.

Pada masa berseragam putih-abu tersebut, bakat Indra sebagai pelatih agaknya mulai muncul. Saat itu, Indra dikenal sebagai remaja yang pandai memprediksi hasil pertandingan. Menurut Indra, kemampuan itu berasal dari kebiasannya mengamati dan menganalisis pertandingan.

Ketika Indra mulai berkuliah di Universitas Andalas, Indra semakin menekuni sepakbola. Di sela-sela aktivitasnya sebagai mahasiswa, ia kerap disibukkan dengan berbagai kompetisi sepakbola yang ia ikuti. Beruntung, jadwal kuliah yang fleksibel membuat Indra dapat mengelola waktunya dengan baik. Buktinya, Indra sukses meraih gelar sarjana di tengah kesibukannya sebagai pesepakbola.

Keahlian Indra dalam mengolah bola rupanya tak bisa dianggap main-main. Saat masih muda, pemain yang berposisi sayap ini digadang-gadang layak menjadi pemain Tim Nasional Indonesia. Sayangnya, impian itu gagal terwujud karena tidak adanya pemandu bakat yang datang ke Sumatera Barat dan menemui Indra.

“Waktu itu ada kualifikasi PON di Sumatera Barat. Sayang, tim scouting dari timnas tidak turun ke daerah untuk melihat potensi-potensi di daerah, padahal banyak. Karena tidak ada scouting itu saya lenyap begitu saja,” kata Indra dalam program Satu Indonesia.[2]

Akibatnya, karir Indra sebagai pesepakbola hanya dihabiskan di klub asal kampung halamannya, PSP Padang. Karirnya di dunia sepakbola pun tak berlangsung lama. Seiring waktu berjalan, ia memutuskan banting setir menjadi pegawai kantor pos dan mendirikan bisnis ekspor ikan.

Hobi Blusukan
 

memberikan arahanIndra sedang memberikan arahan kepada tim asuhannya.
Sumber: negerilaskarpelangi.com

Puluhan tahun berkarir di kantor pos, Indra Sjafri rupanya masih memendam rindu dengan hobi masa kecilnya. Pada 2007, ia memutuskan kembali berkiprah di dunia sepakbola. “Saya berpikir makin lama makin tidak perform di pekerjaan kantor dan bisnis. Saya bilang ke istri, saya harus kembali lagi ke sepakbola,” kata Indra.

Comeback ke dunia si kulit bundar, Indra fokus untuk menjadi seorang pelatih. Pada 2007, ia mengikuti kursus kepelatihan sebelum berkarir menjadi instuktur dan pemandu bakat PSSI dua tahun kemudian. Sebagai pemandu bakat, Indra Sjafri mempunyai program blusukan, yaitu bergerilya mencari pemain-pemain berbakat hingga pelosok-pelosok Tanah Air.

Indra mengatakan program tersebut adalah bentuk ‘balas dendam’ dari pengalaman masa mudanya. Seperti diketahui, bakat Indra sebagai pemain sepakbola tidak tercium karena tidak adanya pemandu bakat yang menemui dan mengetahui bakat Indra dan pemain-pemain lainnya. “Perasaan itu saya yakin tidak sendiri. Ribuan bahkan jutaan anak negeri kecewa jika kemampuannya tidak terpantau dengan baik,” kata Indra kepada Viva.[3]

Di samping itu, Indra mengatakan program blusukan tersebut adalah buah dari gagalnya sistem pembinaan usia muda. Menurutnya, pencarian bakat pesepakbola muda mestinya dilakukan lewat kompetisi-kompetisi sepakbola yang diadakan oleh tiap-tiap daerah.

Alasan lain adanya blusukan adalah agar para calon pemain tidak perlu mengeluarkan dana banyak untuk mengikuti seleksi terpusat yang biasa digelar PSSI. “Pernah kita undang pemain seleksi di Jakarta, yang terjadi dia harus beli tiket. Kadang-kadang ada yang masuk timnas lalu jual rumah dan warung. Makanya sekarang kita yang datang ke daerah,” kata Indra.

Indra menambahkan fenomena pemain ‘titipan’ yang kerap terjadi di Indonesia juga menjadi hal yang ingin ia berantas melalui program blusukan. “Kami dipaksa meramu pemain titipan dari oknum pengurus sepak bola. Mereka mengklaim bahwa pemain-pemain itulah yang terbaik di Indonesia,” katanya kepada Kompas.[4]

Mencari pemain sepakbola berbakat di daerah-daerah pelosok tentu bukan perkara mudah. Indra mengaku selalu ada suka dan duka dalam setiap perjalanan blusukan-nya. Masalah pendanaan adalah salah satu masalah yang paling sering dijumpai Indra dalam melaksanakan misinya tersebut.

“Kami harus mencari sumber pendanaan sendiri untuk menjelajah ke perkampungan, hingga kaki bukit. Karena memang tidak ada dana dari PSSI,” kata Indra. Oleh sebab itu, tak jarang Indra dan kawan-kawan mesti merogoh koceknya sendiri untuk melakukan blusukan. Beruntung, beberapa kawan Indra yang bekerja di perusahaan-perusahaan kerap memberi bantuan dana.

Indra sendiri tak begitu mempermasalahkan apabila ia mesti mengeluarkan uang dalam menjalankan misinya tersebut. Sebab, ia menganggap kegiatan blusukan sebagai bentuk pengabdiannya kepada negara. “Itu bagian dari perjuangan. Saya yakin betul bangsa ini mampu, itu yang membuat saya mau berkorban ” kata Indra.

Blusukan Berbuah Prestasi
 

mengangkat trofi kemenangan
Indra mengangkat trofi kemenangan Piala AFF U-19 2013.
Sumber: babanews.co

Kegiatan blusukan yang dilakukan Indra rupanya berbuah manis. Pada 2012, Indra yang melatih Timnas Indonesia U-17 berhasil merebut gelar juara di ajang Hong Kong FA International Youth Football Invitational Tournament. Saat itu, Timnas U-17 yang ia latih diperkuat oleh pemain-pemain hasil blusukan seperti Evan Dimas Darmono, Putu Gede Juni Antara, dan Ravi Murdianto.

Gelar juara yang diraih di Hong Kong agaknya belum cukup bagi Indra. Sepulang dari Hong Kong, Indra kembali melakukan blusukan untuk mencari pemain-pemain baru yang layak memperkuat Timnas. Blusukan yang dilakukan Indra lagi-lagi berbuah manis. Timnas Indonesia U-19 yang ia latih berhasil menjuarai Piala AFF U-18 yang digelar di Sidoarjo, Jawa Timur.

Dalam tim tersebut, Indra tak hanya membawa ‘alumni’ Timnas U-17 seperti Evan, Ravi, dkk. Ia juga turut membawa pemain-pemain baru hasil blusukan-nya ke pelosok Indonesia. Sebut saja Yabes Roni yang berasal dari Alor, Nusa Tenggara Timur; Hargianto dari Jakarta; serta Ilham Udin dari Maluku. Tim itu juga diperkuat pemain-pemain yang sempat berlatih di Uruguay seperti Hansamu dan Maldini.

Tim yang dijuluki Garuda Muda tersebut pun berhasil mencuri perhatian masyarakat. Tak hanya gelar juara, kekompakan dan determinasi yang mereka tunjukkan juga membuat mereka diidolai berabagai lapisan masyarakat.

Prestasi itu berlanjut beberapa minggu kemudian. Pada kualifikasi Piala Asia U-19, Tim Garuda Muda berhasil meraih tiket langsung setelah mengalahkan raksasa Asia, Korea Selatan. Tak heran, sorotan masyarakat terhadap para pemain Timnas pun semakin menjadi-jadi. Berbagai tawaran tampil di media dan membintangi iklan pun datang menghampiri anak asuh Indra.

Namun, secara tegas Indra melarang para pemainnya untuk membintangi iklan atau acara televisi. Menurutnya, pemain Timnas U-19 perlu fokus menjalani tugasnya sebagai pemain sepakbola yang membawa nama bangsa. “Kami anggap tawaran itu mengurangi kefokusan kami dalam menghadapi Piala Dunia 2015,” kata Indra.

Sayang, ketegasan Indra agaknya belum cukup mengangkat prestasi Timnas. Evan dkk gagal lolos ke Piala Dunia U-20 setelah tersingkir di babak pertama Piala Asia U-19 2014 yang digelar di Myanmar. Saat itu, anak asuh Indra mesti mengakui ketangguhan Australia, Uzbekistan, dan Uni Emirat Arab.

Pasca kegagalan tersebut, PSSI memberhentikan Indra dari jabatan Pelatih Timnas U-19. Keputusan itu mendapat respon negatif dari masyarakat. Sebab, Indra dinilai telah membentuk pondasi bagi masa depan Timnas Indonesia. Sayang, PSSI tak bergeming.

Indra pun melanjutkan karirnya dengan melatih klub Bali United. Kiprah Indra di Pulau Dewata rupanya tak berlangsung lama. Pada 2017, ia kembali dipercaya PSSI untuk menukangi Timnas U-18 dan U-19. Seperti sebelumnya, Indra kembali melakukan blusukan untuk menemukan pemain-pemain berbakat dari berbagai daerah di Tanah Air.

Anak asuh Indra pun kembali disanjung masyarakat. Meski gagal mengangkat trofi Piala AFF U-18 2017, Egy Maulana dkk tetap dipuji berkat permainan yang indah dan menghibur. Bagaimana tidak menghibur, dalam kompetisi itu tak jarang Tim Garuda Nusantara mencetak lebih dari lima gol.

Tak Cuma Taktik
 

latihan timnasIndra sedang memimpin latihan Timnas U-19.
Sumber: zetizen.com

Sebagai seorang pelatih yang fokus pada pembinaan usia muda, Indra tak hanya berupaya meningkatkan kemampuan anak asuhnya dalam hal mengolah bola. Bapak dua anak ini juga fokus meningkatkan mental, fisik, dan kecerdasan para pemainnya. Sebeb, menurut Indra seorang pemain sepakbola yang hebat harus mempunyai empat hal yaitu skill, fisik, mental, dan kecerdasan strategis.

Melatih, anak-anak muda yang berasal dari berbagai daerah di Tanah Air juga menjadi tantangan bagi Indra. Untuk itu, ia juga memupuk rasa persatuan dan kebangsaan anak-anak asuhnya. “Saya sampaikan dari awal, kita berjuang untuk diri, keluarga, bangsa dan negara. Saatnya bertanding mereka betul-betul merasakan harkat dan martabat bangsa bisa diperjuangkan lewat sepakbola,” kata Indra dalam OpiniOn Metro TV.[5]

Di samping itu, Indra juga berupaya mendampingi anak asuhnya yang tengah dalam usia remaja beranjak dewasa. “Ini kan usia-usia yang labil, karena itu saya memerankan diri tak hanya menjadi pelatih. Tetapi juga menjadi orangtuanya, kadang-kadang jadi temannya juga. Di umur segitu memang perlu pencerahan dan pendampingan dari pelatih,” katanya.

baca juga: kisah inspiratif Stefano Lilipaly

Berhasil mengukir prestasi sepakbola Indonesia, sosok Indra rupanya membuat beberapa partai politik kepincut untuk merekrutnya. Namun, pelatih yang mengodalakan Jose Mourinho ini mengaku tak ingin meninggalkan dunia sepakbola. “Minat dan ketertarikan saya di sepak bola, kenapa harus di politik. Tuhan sudah menujuk saya di sepak bola. Sepak bola Indonesia membutuhkan orang (pelatih),” kata Indra kepada Bola.com[6]

Kisah Indra Sjafri di atas agaknya dapat menjadi inspirasi bagi kalian yang ingin berjuang bagi bangsa lewat sepakbola. Sempat gagal di usia muda, kerja keras Indra berhasil mengahrumkan nama bangsa. Prestasi juga bukan satu-satunya tujuan Indra, persatuan dan kebangsaan justru jadi hal utama. Simak kisah inspiratif tokoh-tokoh lainnya bersama Kinibisa!


[1] http://www.bbc.com/
[2] https://www.youtube.com/watch?v=YqZpFQOZexs
[3] http://www.viva.co.id/bola/bola-nasional/439375-profil-indra-sjafri-tinggalkan-keluarga-demi-talenta-sepakbola
[4] http://bola.kompas.com/read/2013/11/30/2124187/Indra.Sjafri.Curhat.Suka.Duka.Cari.Pemain.Daerah
[5] https://www.youtube.com/watch?v=y4FPFX9TEsk
[6] http://www.bola.com/indonesia/read/2434987/alasan-indra-sjafri-enggan-berkecimpung-di-dunia-politik