span 1 span 2 span 2

Inspirasi

Boaz Solossa: Dari Kejar Ayam Sampai Kejar Juara
Oleh : Nanda Aulia Rachman
02 Mei 2018

Highlight

Kaka Boci selalu menjadi inspirasi saya dan seluruh pemain. Ia tak banyak bicara, tapi kerja kerasnya di lapangan membuat kami terpacu.

Boaz Solossa
Salah satu atlet sepakbola Indonesia yang populer saat ini. Ia merupakan bintang dari klub Persipura Jayapura yang telah memulai karir sepakbola sejak usia belasan tahun.
Sumber: sindonews.net

Tanah Papua dikenal sebagai Brazilnya Indonesia. Pulau di ujung timur Indonesia ini sebagai salah satu penyalur talenta-talenta berbakat sepakbola Indonesia. Kinibisa kali ini mengangkat satu tokoh inspiratif asal Papua yang memegang gelar pencetak gol terbanyak sepanjang masa Persipura dan menjadi tumpuan Garuda sejak 2004. Dia adalah bukan lain dan tidak bukan Boaz Solossa.



"Boaz sudah jauh berbeda dari yang pernah saya kenal sebelumnya. Pengalaman dan usia membuatnya semakin matang dan dewasa. Dia pemain yang paling pantas menjadi kapten tim. Dia adalah inspirasi pemain muda Indonesia."

Boaz Theofilius Erwin Solossa lahir di Sorong, 16 Maret 1986. Ia merupakan seorang pesepakbola Indonesia yang bermain bagi Persipura Jayapura. Lelaki ini dianggap sebagai salah satu pemain terbaik yang dimiliki oleh tanah air.

Boaz datang dari keluarga yang cukup terkenal di Papua Barat. Pamannya, Jaap Solossa pernah menjabat sebagai gubernur Papua medio 2000-2005. Sejak kecil, ia sudah cukup dekat dengan sepakbola. Pamannya, Jaap, merupakan pembina sepakbola di Papua.

Kedua saudaranya, Ortizan Solossa dan Nehemia Solossa juga merupakan seorang pesepakbola professional layaknya Boaz. Walaupun berkarir sebagai sepakbola, ia tetap mengedepankan pendidikannya. Ia memegang gelar sarjana ekonomi dari Universitas Cendrawasih sejak tahun 2013.

Karir Boaz dimulai saat ia berusia 13 tahun, bermain bagi PS Putra Yohan, sebuah klub amatir di Sorong. Selang semusim, ia pindah ke Jayapura untuk bergabung dengan klub Perseru Serui dengan status sebagai pemain binaan. Bakat alami dan kemampuan mencetak gol yang tinggi membuat dirinya dipanggil untuk bermain bagi tim PON Papua.

Ia baru menginjak usia 15 tahun saat dirinya bermain di gelaran Pekan Olahraga Nasional (PON) ke-16 yang digelar di Sumatera Selatan pada 2004. Dalam ajang empat tahunan itu, Boaz sukses mengantar Provinsi Papua menjadi juara di cabang sepakbola. Performanya yang terus menanjak menarik perhatian dari berbagai pihak, salah satunya klub professional milik Pemerintah Kota Jayapura, Persipura.

Putra Terbaik Jayapura
 

menjadi ikonMenjadi ikon Persipura Jayapura sejak ia masih berusia belasan tahun.
Sumber:
performgroup.com

Tahun 2005, ia direkrut oleh Persipura Jayapura. Anak dari lima bersaudara ini meniti karirnya bersama tim Mutiara Hitam. Total lebih dari 170 gol didulang pemain bernomor 86 ini dalam 300 penampilan kurang lebih selama 12 tahun membela panji Persipura. Berkat kematangan dan kesetiannya, lelaki dengan tinggi 171 cm ini didapuk menjadi kapten Persipura.

Disini juga, ia pernah bermain bersama kakaknya Ortizan Solossa. Rupa mereka yang mirip sering mengecoh lawan dan teman mereka sendiri, baik di lapangan maupun di luar lapangan. Bersama Boaz, Persipura menjadi salah satu pesaing utama dalam perhelatan sepakbola tertinggi di Indonesia. Berbagai gelar telah diraihnya baik di level klub maupun individu, yakni;

  • Klub
    • 1 kali juara Liga Indonesia (2005)
    • 3 kali juara Indonesia Super League (2008,2010,2013)
    • 1 kali juara Community Shield (2009)
    • 1 kali juara SCTV Cup (2011)
    • I kali juara Inter Island Cup (2011)
    • 1 kali juara Indonesia Soccer Championship A (2016)
  • Individu
    • 1 kali pencetak gol terbanyak Pekan Olahraga Nasional (2004)
    • 3 kali pencetak gol terbanyak Indonesia Super League (2008,2010,2013)
    • 3 kali pemain terbaik Indonesia Super League (2008,2010,2013)

Walaupun sudah lekat dengan tim yang bermarkas di stadium Mandala ini, Boaz sempat pindah ke Pusamania Borneo FC dan Carsae FC, klub sepakbola Timor Leste, di tahun 2015 dan 2016. Namun, ia kembali ke tanah irian setelah hanya bermain di 12 kesempatan selama satu setengah musim berkelana.Kontrol bola, tendangan kaki kiri yang keras, akurasi kaki kiri dan kaki kanan yang sama baik, kecepatan, visi penyerangan, serta naluri tajam di depan gawang menjadi aset bagi boas.

Si Anak Ajaib Indonesia
 

bintang muda
Boaz Solossa ketika membela Tim Nasional Indonesia pada ajang Piala AFF 2016.
Sumber:
tstatic.net

Keterlibatan Bochi, panggilan akrab Boaz, di tim nasional Indonesia bermula pada ketertarikan Peter Withe terhadap permainannya di tim PON Papua. Pelatih kepala Indonesia saat itu kepincut dengan penampilan Boaz yang eksplosif. Alhasil, Peter berani membawa Boaz sebagai salah satu pungggawa Garuda untuk menghadapi Piala Tiger di kala umur Boaz yang baru menginjak usia 17 tahun.

Keputusan Peter rupanya tak salah. Boaz sukses mencetak tiga gol pada ajang dua tahunan tersebut. Sayangnya, Indonesia gagal meraih gelar juara setelah takluk dari Singapura pada partai final. Laga melawan Singapura juga berakhir tragis bagi Boaz. Pada laga tersebut, Boaz mesti meninggalkan lapangan lebih dahulu karena mengalami cedera.

Boaz Solossa menjadi langganan ujung tombak tim garuda. Walaupun diberkahi dengan kemampuan sepakbola yang tinggi, Boaz tidak lepas dari halangan dan rintangan. Sikap kontroversialnya menjadi permasalahan utama. Sikap bengalnya seringkali menimbulkan prahara bagi skuat garuda.Boaz bahkan pernah mengalami cidera dikarenakan terluka saat mengejar ayam di sekitar tempat tinggalnya. Hal ini membuat Boaz harus menepi beberapa pekan membela Persipura.

Seiring dengan perkembangan usia, kemampuan dan mentalnya semakin ikut terasah. Dari pemain yang pernah menolak panggilan tim nasional sampai menjadi kapten tim nasional Indonesia asuhan Alfred Riedl 2016 lalu, merupakan sebuah metamorphosis bagi Bochi.

“Boaz sudah jauh berbeda dari yang pernah saya kenal sebelumnya. Pengalaman dan usia membuatnya semakin matang dan dewasa. Dia pemain yang paling pantas menjadi kapten tim. Dia adalah inspirasi pemain muda Indonesia,” ujar Riedl dikutip dari CNN Indonesia 30/11/2016).

Kematangannya dan kualitasnya sebagai skipper garuda sangat terasa pada gelaran piala AFF 2016 lalu. Permainan dan perangainya di dalam dan luar lapangan menjadi inspirasi bagi para punggawa lainnya, terutama bagi pemain muda.

Hal ini terlontar dari mulut Fachrudin Aryanto, bek timnas Indonesia kepada CNN Indonesia (30/11/2016). “Kaka Boci selalu menjadi inspirasi saya dan seluruh pemain. Ia tak banyak bicara, tapi kerja kerasnya di lapangan membuat kami terpacu,” katanya.

Hansamu Yama, salah satu bek muda potensial juga mengamini karisma dan pengalaman Boaz Solossa.  “Dia sangat rendah hati. Bikin pemain muda seperti saya percaya diri. Dia juga yang menguatkan saya ketika tak sengaja membuat Irfan Bachdim cedera sebelum berangkat ke Filipina,” ujar Hansamu dikutip dari CNN Indonesia (30/11/2016).

Untuk urusan komentar, jangan banyak berharap dari Bochi, bahkan ban kapten yang disandangnya tak membuat dirinya mudah untuk angkat bicara. Sudah rahasia umum bahwa lelaki yang satu ini kerap bungkam seribu bahasa di hadapan awak media.

baca juga: kisah inspiratif Bambang Pamungkas

Komentar Boaz yang beredar di media massa hanya berasal dari rilis ofisial timnas.Akan tetapi, Boaz tak pernah sekalipun diam di lapangan. Kakinya seperti tak kenal lelah baik saat menyisir daerah pertahanan lawan atau bahkan saat kembali untuk menahan gempuran. Semangatnya selalu berkobar di arena pertandingan.

Boaz Solossa telah membuktikan bahwa tidak ada kata terlalu awal untuk mengharumkan nama Indonesia. Ketika masih berusia belasan tahun, Boaz telah membela Indonesia di ajang sepakbola internasional. Boaz yang telah berulangkali mengalami cedera juga bisa menjadi inspirasi untuk selalu bekerja keras demi nama baik Indonesia. Simak kisah tokoh-tokoh inspiratif lainnya bersama Kinibisa!