span 1 span 2 span 2

Inspirasi

Dian Sastrowardoyo: Identik dengan Cinta, Dian Tidak Lupa akan Pendidikan
Oleh : Ardito Ramadhan
02 Mei 2018

Highlight

Berteman dengan orang-orang yang cerdas.

dian satrowardoyo
Dian Sastrowardoyo adalah seorang aktris Indonesia ternama yang dikenal melalui aktingnya di film Ada Apa dengan Cinta.
Sumber: twimg.com

Rasanya setiap orang di Indonesia pasti pernah mendengar nama Dian Sastrowardoyo. Film Ada Apa Dengan Cinta? yang dibintanginya membuat namanya meroket dalam dunia hiburan. Di sisi lain, aktif membintangi film layar lebar rupanya tak membuat Dian Sastro lupa akan pendidikan. Penasaran dengan kisahnya? Simak kisah Dian Sastro yang inspiratif bersama Kinibisa!



"Waktu masih muda, terlalu banyak yang aku inginkan. Aku ingin tenar, ingin jadi bintang, cari duit yang banyak, pengen pacaran sama siapa lah. Pokoknya ingin populer dan tenar."

Masa Kecil Dian Sastro
 

Dian Sastrowardoyo lahir di Jakarta pada 16 Maret 1962. Sejak kecil, Dian Sastro telah terbiasa bekerja keras bersama keluarganya. Sepertinya, Dian Sastro sangat terinspirasi dari sosok ibu kandungnya yang merupakan seorang pekerja keras. Sejak Dian berusia 13 tahun, ibunya memang mesti bertindak sebagai orang tua tunggal karena suaminya telah lebih dahulu tiada.

“Saya putri single parent, perempuan, bapak saya meninggal ketika saya usia 13 tahun. Saya tidak penah melihat ibu saya santai, dia kerja, kerja sampai malam. Dari kecil itu sadar hidup itu gak enak, penuh perjuangan, ibu saya melakukannya,” kata Dian kepada Tribun.[1]

Salah satu bentuk kerja keras ibunya yang selalu diingat Dian adalah ketika Dian selalu diboyong ke tempat kuliah ibunya. "Karena dia melahirkanku saat masih kuliah. Mama membawaku ke tempat kerjanya-mama selalu ngantor all her life, sampai sekarang pun sudah pensiun tapi tetap ngotot maunya kerja mengajar jadi dosen," katanya dikutip dari Money.id.[2]

bersama ibunda
Dian kecil berfoto bersama sang ibunda.
Sumber:
news.netmedia.co.id

Watak pekerja keras yang dimiliki ibunya juga turun ke dalam diri Dian. Ketika kecil, Dian tak termasuk sebagai anak-anak yang manja. Misalnya, ia sering menggunakan angkot untuk pulang-pergi sekolah. Dian mengaku ada pengalaman-pengalaman unik yang ia alami saat menjadi pelanggan angkot, salah satunya saat dipalak oleh preman.

Selain itu, ibunda Dian rupanya juga menjadi sosok inspiratif bagi Dian untuk lebih rajin belajar. “Dulu mama bilang, ‘kita bukan orang kaya ya Dian. Saya nggak bisa kalo kamu nggak pinter. Kamu harus lebih pinter dari saya.’ Ini yang mengajarkan saya to be thought in life,” kata Dian kepada NETZ.[3]

Masa kecil Dian yang sederhana membuatnya mempunyai cita-cita besar. Salah satu cita-cita terbesarnya adalah berkuliah di luar negeri. Dian menyadari berkuliah di luar negeri membutuhkan uang yang tidak sedikit. Untuk itu, mencoba berbagai cara untuk mulai menabung sejak kecil.

Dari situ, Dian mulai mengenai dunia model yang menurutnya dapat menjadi salah satu alternatif untuk mempunyai penghasilan sendiri. Pada 1996, Dian mengikuti ajang pemilihan Gadis Sampul yang diselenggarkaan oleh majalah Gadis. Kala itu, pemilihan Gadis Sampul adalah sebuah ajang yang sangat bergengsi bagi remaja-remaja perempuan di Indonesia.

Demi memenangkan ajang tersebut, Dian melakukan berbagai persiapan termasuk membentuk karakternya sendiri. Berkat kerja kerasnya, Dian berhasil menjadi Juara Pertama Gadis Sampul 1995. Kemenangan ini pun mengantarkan Dian kepada dunia yang kelak membesarkan namanya, yaitu dunia hiburan.

Karier Film Dian Sastro
 

Gelar pemenang Gadis Sampul yang disandang Dian Sastro membuat namanya mulai dikenal oleh pelaku-pelaku industri hiburan. Karir Dian di jagat hiburan dimulai pada 2000 ketika ia membintangi film Bintang Jatuh yang dibesut oleh Rudy Soedjarwo. Meski telah membintangi film pertamanya, nama Dian saat itu belum terlalu terkenal karena film Bintang Jatuh tidak diputar di bioskop dan hanya ditayangkan secara independen di beberapa kampus.

Nama Dian mulai terangkat ketika ia berperan dalam film Pasir Berbisik pada 2001. Dalam film itu, Dian mempunyai kesempatan beradu akting dengan aktor dan aktris senior seperti Christine Hakim, Didi Petet, dan Slamet Rahardjo. Dian mengaku belajar banyak dari pengalamannya berakting dalam Pasir Berbisik. “Dalam Pasir Berbisik saya benar-benar digojlok. Selain medannya sulit (di lautan pasir Gunung Bromo), aktingnya pun tidak main-main,” kata Dian kepada Tabloid Bintang.[4]

Setahun kemudian, popularitas Dian meroket drastis. Perannya sebagai Cinta dalam Ada Apa Dengan Cinta? melambungkan nama Dian di jagat hiburan Tanah Air. Bagaimana tidak, film yang disutradai Rudy Soedjarwo ini tercatat meraup 2,700,000 penonton dan merupakan yang tertinggi pada masanya. Kesuksesan Ada Apa Dengan Cinta? pun dianggap sebagai awal kebangkitan film Indonesia yang sempat lesu.

poster film aadc
Poster film Ada Apa dengan Cinta? film yang melambungkan nama Dian Sastro di dunia perfilman Indonesia.
Sumber: dafunda.com

Rasanya tak hanya popularitas yang didapat oleh Dian melalui film tersebut. Dian dan lawan mainnya, Nicholas Saputra, juga menjadi role model anak-anak muda saat itu. Berkat film itu, banyak anak muda yang tiba-tiba menggandrungi dunia sastra, khususnya puisi, seperti sosok Cinta dan Rangga yang ada di Ada Apa Dengan Cinta?

Setelah kesuksesan Ada Apa Dengan Cinta? , Dian semakin sering mendapat tawaran bermain film. Buktinya, Dian membintangi tiga film sekaligus pada 2004. Film-film itu adalah Banyu Biru, Ungu Violet, dan Belahan Jiwa. Dua tahun setelahnya, ia pun beradu peran dalam serial televisi berjudul Dunia Tanpa Koma yang ditayangkan di sebuah televisi swasta.

Pada 2008, Dian kembali beradu akting dengan Nicholas Saputra melalui film 3 Doa 3 Cinta. Di tahun yang sama, Dian juga berperan dalam film berjudul Drupadi. Dalam film itu, Dian rupanya tidak hanya berakting di depan kamera. Bersama Mira Lesmana, ia berstatus sebagai produser film yang sempat mengundang kontroversi itu.

Setelah itu, Dian memilih untuk vakum dalam membintangi film. Selama sekitar enam tahun ia meninggalkan dunia hiburan yang membesarkannya dan banting setir menjadi wanita karir. Dian menuturkan pengalamannya sebagai pekerja kantoran telah membuatnya semakin profesional dalam pekerjaannya. “Belajar banyak banget di keadaan ga nyaman. Kembali ke dunia hiburan ada etos kerja lebih baik,” kata Dian kepada Tribun Style.[5]

Pada 2014, namanya kembali muncul ke dunia hiburan saat membintangi film pendek yang berjudul Ada Apa Dengan Cinta? 2014. Film pendek yang disponsori sebuah aplikasi messenger ini rupanya membuat heboh masyarakat. Masyarakat pun meminta Mira Lesmana, produser Ada Apa Dengan Cinta?, untuk segera memproduksi sekuel film drama remaja itu.

Permintaan masyarakat terkabul dua tahun kemudian. Pada 2016, Dian Sastro dan Nicholas Saputra kembali beradu akting dalam Ada Apa Dengan Cinta? 2. Seperti pendahulunya, film yang menceritakan kelanjutan kisah Cinta dan Rangga itu juga mencetak rekor. Setidaknya, ada  lebih dari tiga juta pasang mata yang menonton film ini. Film ini pun tercatat sebagai film dengan jumlah penonton terbanyak pada 2016.

Setahun kemudian, Dian membintangi film berjudul Kartini. Sesuai dengan judulnya, film ini menceritakan sosok RA Kartini yang termahsyur. Dalam film itu, Dian memerankan pahlawan yang kelahirannya diperingati tiap 21 April itu. “Untuk memerankan Raden Ajeng Kartini sendiri termasuk tantangan terbesar saya sebagai seorang aktor, tapi juga membawa kebanggaan yang besar sekali," kata Dian kepada Liputan 6.[6]

Dian Sastro: Artis yang Melek Pendidikan
 

wisuda ui
Dian Sastro ketika menghadiri upacara wisuda di Kampus FEB UI bersama keluarganya.
Sumber: obs.line-scdn.net

Sukses menjadi bintang film tak membuat Dian lupa akan pendidikan. Dian pun sering dibicarakan sebagai salah satu selebriti Indonesia yang sangat peduli dengan pendidikannya. Tidak tanggung-tanggung, ibu dua anak ini telah memegang gelar master alias S2.

Di tengah kesibukannya bermain film pada pertengahan 2000-an, Dian tercatat sebagai mahasiswa S1 Fakultas Ilmu Pengetahun Budaya di Universitas Indonesia. Di sana, ia mengambil jurusan yang agaknya kurang populer, yaitu filsafat. Menurut perempuan yang sempat kuliah Hukum di UI ini, filsafat mengajarkannya untuk dapat berpikir logis dan rasional.

Selain itu, ia menyebut filsafat sangat mendukung profesinya di dunia film. “Pelajaran filsafat yang saya dapat ternyata menjadi bekal yang baik saat terjun ke dunia hiburan. Pada saat saya mempelajari sebuah skenario dan karakterisasi tokoh, saya mencoba untuk menganalisis dengan kerangka berpikir logis yang diajarkan di dunia filsafat,” katanya kepada Kompas[7].

Pada 2007, Dian akhirnya lulus dari Kampus Kuning setelah belajar di sana selama enam tahun. Di tengah kesibukannya menjadi aktris, Dian rupanya berhasil mencatat prestasi yang cukup baik di kampusnya. Ia tercatat pernah menjadi asisten dosen selama dua semester dan lulus dengan IPK yang cukup baik.

Tak puas dengan gelar S1, Dian memutuskan melanjutkan pendidikannya di Program Studi S2 Magister Manajemen jurusan Manajemen Keuangan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Kali ini, Dian bertekad menghabiskan masa kuliahnya dengan lebih serius ketimbang sebelumnya. “Waktu masih muda, terlalu banyak yang aku inginkan. Aku ingin tenar, ingin jadi bintang, cari duit yang banyak, pengen pacaran sama siapa lah. Pokoknya ingin populer dan tenar,” katanya kepada Getscoop.[8]

Vakumnya Dian dari dunia seni peran rupanya tak membuat Dian bisa leluasa menjalankan aktivitas kuliahnya. Kehadiran dua buah hatinya, Syailendra dan Ishana, membuat perempuan ini mesti menjalani peran ganda, sebagai mahasiswa dan sebagai ibu bagi kedua anaknya. “Seminggu setelah melahirkan Ishana, aku langsung kuliah. Jadi, bisa dibayangkan perut masih nyeri habis melahirkan, tapi harus kuliah lagi. Kalau dipikir berat ya pasti berat, namun aku berusaha untuk menikmatinya,” katanya.

Peran ganda tersebut juga membuat Dian mesti pandai mengelola waktu. “Ketika anak-anak sudah tidur, aku baru mengerjakan tugas. Dan itu bisa sampai jam tiga subuh setiap hari. Kalau dihitung-hitung selama 1,5 tahun kuliah, aku tidur tidak lebih dari lima jam,” katanya menambahkan.

Hasil tak pernah mengkhianati usaha. Pada September 2014, Dian berhasil lulus dengan status cum laude. IPK-nya tercatat sebesar 3,76. "Jadi bersyukur banget deh dari semuanya. Buat aku ini anugerah," kata Dian kepada Kompas.[9]

baca juga: kisah inspiratif Daniel Mananta

Ketika ditanya resep untuk meraih prestasi di tengah-tengah kesibukannya, Dian mengaku kunicnya adalah berteman dengan orang-orang yang cerdas.” Sekelas itu teman aku pintar-pintar. Jadi, akhirnya aku sadar, kita itu pintar atau enggak, berhasil atau enggak karena pengaruh teman. Kalau teman kita memberi energi positif dan pintar, kita mau tidak mau akan terbawa,” katanya.

Melalui cerita Dian Sastro, agaknya kita dapat belajar bahwa kerja keras adalah kunci keberhasilan setiap orang, siapa pun dia, dan di mana pun dia berkarya. Selain itu, Dian Sastro juga dapat menjadi contoh bahwa apapun pekerjaan kita, pendidikan tak boleh dilupakan. Mari simak kisah inspiratif dari tokoh-tokoh lainnya bersama Kinibisa!


[1] http://www.tribunnews.com/seleb/2016/04/16/cerita-masa-kecil-dian-sastri-yang-terbiasa-bekerja-keras
[2] https://www.money.id/show-biz/begini-masa-kecil-dian-sastrowardoyo-1512238.html
[3] https://netz.id/news/2016/09/05/00316/1025020916/jadi-dian-sastro-ternyata-nggak-gampang
[4] http://www.tabloidbintang.com/articles/film-tv-musik/kabar/34955-dian-sastrowardoyo-dalam-pasir-berbisik-saya-benarbenar-digojlok
[5] http://style.tribunnews.com/2016/12/01/vakum-6-tahun-main-film-dian-sastro-pernah-berprofesi-sebagai-ini-dan-sempat-diremehkan
[6] http://showbiz.liputan6.com/read/2884320/ini-alasan-hanung-bramantyo-pilih-dian-sastrowardoyo-jadi-kartini
[7] http://lifestyle.kompas.com/read/2011/07/08/09053321/Dian.Sastro.Saya.Tidak.Tertarik.Politik
[8] https://www.getscoop.com/berita/dian-sastro-pengorbanan-berbuah-cum-laude/
[9] http://entertainment.kompas.com/read/2014/08/29/185556710/Lulus.S2.Cum.Laude.Pengorbanan.Dian.Sastro.Terbayar