span 1 span 2 span 2

Inspirasi

Yasser Muhammad: Anak Muda Yang Peduli Akan Pendidikan
Oleh : Halimah Nusyirwan
14 September 2018

Highlight

Kalau mau ngebantu jangan nunggu sukses dulu karena if you’re willing to be a great man, ya build other to be great.

Yasser Muhammad Syaiful, anak muda yang berjiwa sosial dan peduli akan pendidikan anak-anak Indonesia.
Yasser Muhammad Syaiful, anak muda yang berjiwa sosial dan peduli akan pendidikan anak-anak Indonesia.
Sumber: instagram.com

Berawal dari jiwa sosialnya yang tinggi saat masih di SMA, Yasser Muhammad kini dikenal oleh masyarakat Indonesia sebagai pendiri dari organisasi non-profit yang bergerak di bidang pendidikan dengan fokus membantu anak-anak Indonesia yang putus sekolah dikarenakan berbagai alasan. Prestasi yang gemilang sebagai mahasiswa lulusan Teknik Industri rupanya menjadikan Yasser sebagai contoh anak muda Indonesia yang tak hanya berprestasi, namun juga berkontribusi dalam perubahan bangsa Indonesia. Seperti apa kisah perjalanan Yasser Muhammad dari awal merintis Matahari Kecil? Simak kisahnya bersama Kinibisa!



"Lo boleh banget sekolah tinggi dengan gaji besar, tapi jangan lupa juga lo kontribusi ke yang lain. Inget umur lo itu nggak ada yang bisa jamin sampe kapan. Tanya sama diri sendiri apa yang udah lo lakuin buat masyarakat sekitar, buat Indonesia."

Berjiwa Sosial Sejak Masih Sekolah
 

Kepeduliannya pada dunia sosial muncul sejak ia di bangku SMA.
Kepeduliannya pada dunia sosial muncul sejak ia di bangku SMA.
Sumber: instagram.com

Perjuangan seorang Yasser Muhammad untuk dapat berada di posisinya sekarang tentu menyimpan kisah tersendiri yang penuh dengan perjuangan serta usaha dalam meraih impian. Sebelum dikenal sebagai pendiri Matahari Kecil, Yasser merupakan sosok anak laki-laki yang menggemari olahraga futsal ketika masih berada di bangku sekolah. Ia pun berkeinginan untuk fokus pada futsal sebelum ia menyadari kecintaannya pada dunia sosial. Minatnya pada aktivitas sosial mulai terbentuk ketika ia bergabung sebagai ketua Karang Taruna saat kelas 3 SMA. Ia mengaku bahwa semenjak berada di Karang Taruna, ia mulai lebih peduli dengan hal-hal sosial dikarenakan kegiatan karang taruna yang berhubungan dengan masyarakat dan lingkungan sekitarnya.

“Di SMA itu waktu awalnya cuma pengen fokus di futsal aja, tapi along the way pas udah berjalan, pas akhir-akhir tuh kelas 3, karena mungkin waktu SMA tuh jadi ketua Karang Taruna juga di Bandung, nah itu mulai terkesan lebih peduli dengan sosial semenjak kelas 3 itu. Jadi awalnya dari itu, karena Karang Taruna kan in charge-nya pasti di masyarakat nyari problem sekitar, dan itu sudah mulai dari kelas 2 atau 3 lah jadi kesibukannya nggak futsal aja tapi juga seneng blusukan sama temen-temen,” ceritanya ketika diwawancarai oleh Kinibisa di kawasan Jakarta Pusat (05/08/2018).

Setelah lulus dari bangku sekolah, Yasser berkeinginan untuk melanjutkan pendidikan di antara dua pilihan yaitu, ITB dan Telkom dengan jurusan Teknik Industri. Minatnya pada Teknik Industri di dasari oleh kemauannya yang ingin belajar mengenai berbagai hal yang ia rasa akan didapatkan melalui jurusan ini. Yasser menganggap jurusan tersebut merupakan jurusan yang dapat membuka kesempatan di berbagai bidang dan tentunya ilmu-ilmu yang terdapat di jurusan ini merupakan ilmu yang cocok dengannya.

baca juga: kisah inspiratif Raras Tatachi

“Jadi awalnya SMA itu emang dari kelas 2 udah nargetin pengen masuk TI. Awalnya mau masuk TI ITB kalau nggak ya keduanya swasta dan swastanya di Telkom. Jadi emang dari awal nggak mau apapun, maunya cuma TI. Karena dari awal ngeliat TI itu kan kayak kalau gampangnya disiplin ilmu kan ada dua, ada yang pakai roket artinya kita kayak belajar fisika dan itu kan detail banget. Nah kalau TI itu kayak kapal komersil. Dia luas banget dan emang belajarnya kayak helicopter view ngeliatnya, jadi belajarnya banyak dan aku suka yang nggak detail dan lulusan TI bisa masuk kemana-mana,”ujarnya.

Salah satu impian terbesar Yasser adalah menjadi mahasiswa ITB. Impiannya tersebut sudah terlihat sejak awal dan Yasser merupakan tipe individu yang cukup gigih dalam meraih apa yang ia mau. Hal ini juga dilatarbelakangi oleh keinginan serta harapan orang tuanya, khususnya sang ayah, yang ingin Yasser untuk dapat melanjutkan pendidikan di salah satu universitas terkemuka di Indonesia tersebut.

Akan tetapi, impiannya masuk ITB tertunda dikarenakan Yasser yang tidak lolos masuk dan akhirnya ia memilih Telkom sebagai universitasnya kala itu. Meskipun Yasser sudah bergabung di Telkom, ia masih bertekad untuk mencoba peruntungannya kembali dengan mengikuti SBMPTN dan mengorbankan nasibnya di Telkom.

“Jujur gua itu kan kayak ITB addict, jadi dari dulu nggak mau masuk manapun kecuali ITB . Dulu tuh kayak gitu. Pas masuk Telkom, tahun pertama itu bener-bener nggak fokus di Telkomnya. Malah semester dua itu mutusin buat berhenti. Jadi semester dua atau tiga gitu gua bener-bener lepas dan fokus buat SBMPTN. Jadi kayak gua kalau nggak masuk gua harus ngulang sama yang bawah (junior) dan IP gua pasti 0 koma sekian kan, tapi itu ngebuat gua bikin lebih eager lagi buat masuk ITB. Akhirnya gua belajar setahun dan nggak masuk lagi ke ITB tuh. Baliklah ke Telkom dengan IP 0,3 karena waktu itu dilepas banget. Dari situ baru mulai kayak mindset-nya diubah bahwa lo dimanapun kalau brilliant ya tetap brilliant,” kata Yasser.

Setelah kembali mencoba tes, Yasser kembali gagal masuk ITB dan merelakan impiannya tersebut dengan berjuang untuk menjadi mahasiswa berprestasi di Universitas Telkom. Ia berusaha untuk memperbaiki nilai-nilainya dengan mengikuti berbagai aktivitas dan perlombaan.

“Mulai ikutan assistant lab, terus ikut lomba nasional, lolos ikut internasional. Jadi selama semester 2 keatas, itu kesibukannya full banget. Jadi bener-bener ikut lomba, ikut organisasi, ikut yang lain, nah mungkin itu paling banyak disana dan Alhamdulillah pas lulus juga masuk one of the companies yang di idam-idamkan dan mengalahkan ribuan anak ITB,” ujar Yasser yang lulus pada tahun 2016 ini.

Ia juga menyibukkan dirinya dengan bergabung di organisasi kampus serta mengikuti berbagai kegiatan ketika kuliah. Usahanya dalam menjadi mahasiswa berprestasi saat itu membuah hasil. Ia berhasil memenangkan banyak perlombaan dan kesuksesannya tersebut membawanya hingga ke perlombaan internasional. Kemenangannya tersebut akhirnya membuahkan beasiswa yang diberikan oleh pihak kampus sebagai apresiasi atas prestasinya tersebut.

Matahari Kecil
 

Yasser Muhammad Syaiful adalah founder dari Matahari Kecil.
Yasser Muhammad Syaiful adalah founder dari Matahari Kecil.
Sumber: instagram.com

Matahari Kecil merupakan organisasi yang dicetuskan oleh Yasser ketika ia masih berkuliah dulu. Dibentuk pada tahun 2015, Matahari Kecil merupakan sebuah organisasi yang bertujuan membangun pendidikan anak-anak Indonesia dengan bantuan anak-anak muda Indonesia dalam bentuk volunteering program. Munculnya organisasi ini berawal ketika Yasser dimintai bantuan untuk membantu anak-anak yang putus sekolah.

“Jadi awalnya itu waktu SMA, kan Karang Taruna tuh. Sampe ke kuliah masih Karang Taruna juga. Nah dari situ awalnya biasa lah DKM,  lingkungan masjid, bilang bahwa bisa bantu mereka nggak. Ada anak di jam sekolah malah mungutin sampah, malah ngebantu orang tuanya jualan, malah bermain, dan seterusnya. Fenomena ini kita datengin bareng-bareng dan emang waktu itu ada 3 anak yang ternyata putus sekolah. Anak-anak ini kurang mampu dan tidak bisa melanjutkan dari SD ke SMP. Simply kita mau bantu aja. Waktu itu aku mau bantu aja buat 3 anak ini sekolah lagi. Akhirnya approach ke salah satu sekolah terbuka namanya sekolah Firdaus dan ditolak. Katanya gara-gara tidak memungkinkan lagi karena udah penuh. Aku nggak mikir panjang langsung cari tempat dan tiga anak ini aku ajarin sama orang-orang Karang Taruna dan bapak-ibu orang DKM tadi. Ternyata pas kita buka pendaftaran yang daftar nggak cuma 3 anak tadi. Akhirnya seangkatan ada 13 anak dan ini bentuknya volunteering teaching,” jelas Yasser.

Hal ini lah yang pada akhirnya memberikan ide pada Yasser dalam membentuk sebuah wadah khusus agar bisa membantu anak-anak yang kurang beruntung tersebut. Ia melihat adanya potensi dalam bidang ini dan Yasser juga menganggap bahwa kegiatan ini akan berdampak besar pada dirinya, lingkungan, dan bahkan negaranya.

“Pas udah berjalan, ilang-ilang biasalah volunteer. Saya mikir bahwa ngajar mereka ini nggak bisa hit-and-run dan anak-anak ini nggak mungkin stop sekolah. Akhirnya saya mikir entitas apa yang sekiranya waktunya banyak dan kreatif dan tentunya anak muda lah. Waktu itu cuma OPREC lewat Instagram. Butuh 20 orang yang daftar hampir 300. Pas udah kayak gitu mikir ‘Wah ini kayaknya potensial banget nih buat dilanjutin’. Saya mikir kayaknya kalau dibikin organisasi jadi wadah yang jelas dan ada strukturnya dan akhirnya jadi lah Matahari Kecil,” lanjutnya.

Namun, dalam membangun sesuatu, tentu ada tantangan serta hambatan yang harus ia lewati untuk meraih visi dan misinya kala itu. Yasser bercerita bahwa usahanya membangun Matahari Kecil tidaklah mudah sebab ia harus memulai semuanya dari nol. Perjuangan yang ia lakukan untuk memperkenalkan Matahari Kecil pada masyarakat juga dipenuhi jerih payah dalam membangun kepercayaan dan dukungan dari orang-orang yang dituju.

“Bener kalau dibilang susah ya susah banget. Kita buat dari scratch, dari nol banget. Dari orang-orangnya nggak ada sampe ada. Nah tantangannya pasti banyak banget kan. Pertama, kita kayak stranger datang ke satu tempat gitu dan nggak semua warga welcome itu udah pasti. Yang kedua, dari orang tua murid kita kadang harus nyamperin ke rumahnya dan jelasin ke mereka. Itu kendalanya baru dari sekolah, belum yang dari tim. Nyari duitnya gimana . Sebenernya dalam tiga tahun ini banyak belajar,” ceritanya.

Setelah melewati berbagai rintangan hingga sudah terbilang sukses kini, rupanya mengajarkan banyak pelajaran penting yang didapatkan selama proses membangun Matahari Kecil. Yasser menganggap bahwa kegiatan sukarelawan tersebut membawa pengaruh yang besar baik untuk orang-orang yang di bantu, maupun para sukarelawan itu sendiri. Hal ini berkaitan erat dengan berubahnya cara berpikir masyarakat Indonesia dalam hal sosial serta membangun Indonesia menjadi lebih baik lagi.

“Pertama, banyak orang yang nggak tahu kalau jadi volunteer, impact-nya itu luas banget. Sangat banyak malah. Kita ngasih waktu buat orang, tapi sebenernya kita dapat waktu yang lebih. Itu yang dirasain banget. Orang-orang yang ikut volunteer itu orang-orang sibuk bukan orang yang nganggur gitu. Mereka ada yang kuliah dan ada yang kerja juga, tapi dengan mereka ikut volunteer, mereka memberikan waktu buat ini tapi mereka juga merasa waktunya sangat berharga dan bermanfaat. Terus mereka juga ngeluarin skill dan di Matahari Kecil ini mereka juga dapetin skill dan feedback yang lebih banyak lagi,” tuturnya.

Matahari Kecil kini sudah menorehkan prestasi dalam merubah pendidikan Indonesia. Kini organisasi tersebut tercatat sudah memiliki cabang di Jakarta dan Bandung dan rencananya akan melebar ke berbagai kota lainnya. Walaupun begitu, Yasser belum merasa puas dengan apa yang sudah ia raih. Ia masih memiliki berbagai impian yang ingin diwujudkan melalui Matahari Kecil. Ia merasa bahwa Indonesia memiliki peluang besar dalam bidang ini terutama dalam bidang sosial.

“Waktu aku S1 beres, lanjut S2, pas S2 ini ngerasa koneksi banyak dan aku kan sekarang lagi ngejalanin MBA di ITB, nah itu tuh koneksi jadinya banyak. Makin banyak link, makin terbuka pikiran. Makin banyak kebuka pikiran, semakin liar mimpi lo. Nah aku pengen bikin platform pendidikan karena masalah yang dihadapi banyak seperti akses pendidikan yang kurang dan seterusnya dan aku mimpinya kedepan si Matahari Kecil ini bisa ke seluruh Indonesia. Terus harapan utamanya adalah ngubah mindset anak muda kalau mau ngebantu jangan nunggu sukses dulu karena if you’re willing to be a great man, ya build other to be great. Karena potensi volunteer di Indonesia itu tinggi banget. Indonesia ada di peringkat kedua dunia setelah Myanmar,” kata Yasser.

Mungkin banyak orang-orang yang bertanya-tanya mengenai spesifikasi untuk bergabung dengan organisasi ini. Yasser mengatakan bahwa untuk bergabung di Matahari Kecil, diperlukan komitmen yang besar untuk meluangkan waktu dan melakukan kegiatan sosial untuk anak-anak yang putus sekolah. Syarat ini merupakan aspek utama yang ia cari sebab banyak sukarelawan yang telah bergabung namun akhirnya jarang kembali dikarenakan berbagai hal serta alasan.

“Kita nggak ada spesifikasi kayak lo harus Islam, lo harus apa. Kita pengennya orang-orang yang bener-bener mau ngeluangin waktunya dan commit sebenarnya. Yang paling susah dari volunteer itu commit,” ucapnya.

Matahari Kecil sendiri memiliki target yang ingin dicapai. Target tersebut tak lain adalah untuk menumbuhkan keberanian para generasi milenial untuk memberikan manfaat serta dampak yang besar pada lingkungannya. Hal ini dilakukan guna membuat anak-anak muda Indonesia untuk tidak menunda-nunda dalam melakukan kebaikan atau suatu hal yang dapat merubah bangsanya.

Untuk menjadikan Matahari Kecil lebih sukses dan maju lagi, Yasser membagikan rencana kedepannya dalam membangun organisasi ini karena dirinya merasa bahwa banyak anak-anak muda yang memiliki potensi serta niatan untuk berbuat kebaikan serta memberikan efek positif pada orang-orang di sekitar namun masih terhalang oleh minimnya wadah atau medium untuk menyalurkannya. Maka dari itu, kunci utama yang harus dimiliki adalah menyatukan passion, kesamaan visi dan misi, serta adanya tujuan utama yang jelas yang ingin dicapai pada akhirnya.

“Sekarang kita di Jakarta megang TK dan di Bandung ada SMP terbuka. Cuma proyek terdekat kita pengen ngebenerin social planner kita sih sebenernya. Aku udah bikin bisnis model baru dan harapannya bisa diterapkan. Jadi pengennya nanti ada bisnis dan ibaratnya bisa menafkahi orang-orang di Matahari Kecil. Terus tahun 2018 pengen bikin Indonesia Social Planner buat anak muda kuliah selama setahun tapi ada impact-nya,” ujar Yasser.

“Pertama itu dari kita dulu kuncinya. Itu adalah jelas passion dan visi. Jadi lo harus punya passion dan harus punya visi. Nah passion itu kan latar belakang, kenapa lo suka passion ini dan itu yang bikin pondasi lo kuat. Dan lo harus punya visi tujuannya mau kemana. Kalau kita nggak punya itu ya nggak akan jelas. Untuk yang kedua adalah people-nya. Itu mungkin paling penting. Mau apapun proyek lo kalau people-nya kurang, mungkin hasilnya juga bisa kurang. Dan yang terakhir adalah konsisten,” lanjutnya.

Pendidikan di mata Yasser dan Harapannya di Masa Depan
 

Sosok Yasser Muhammad Syaiful
Sosok Yasser Muhammad Syaiful
Sumber: instagram.com

Menjadi lulusan Teknik Industri rupanya banyak memberikan manfaat bagi Yasser dalam membangun organisasinya tersebut. Ia merasa bahwa ilmu-ilmunya selama berkuliah dulu banyak terpakai, khususnya dalam membentuk manajemen atau fondasi dasar Matahari Kecil. Terlebih lagi kini ia berhasil melanjutkan S2 di ITB yang tentunya semakin berguna dalam kemajuan organisasi bentukannya tersebut.

“Mungkin yang real banget itu manajemen. Manajemen kan banyak ada marketing management, financial management, management as general itu kepake banget. Kan manajemen itu ngajarin kita berpikir bahwa ada objek, kita manage gimana caranya biar ke utilize lebih baik. Nah when it comes to non-profit organization, itu pun bisa dilakuin, gimana cara lu nge-manage volunteer. Kan manage people itu paling susah. Gimana caranya dapetin duit, kita ada social planner. Jadi sebenernya di kuliah itu banyak banget yang kepake dan Teknik Industri banyak banget yang kepake,” katanya.

Kesibukannya dalam menjalankan usaha serta melanjutkan pendidikan tentu diperlukan time management yang baik agar kedua hal tersebut berjalan dengan seimbang. Bagi Yasser sendiri, menentukan skala prioritas serta kejujuran adalah hal penting yang dapat membantu kelancaran hal-hal tersebut. Terlebih lagi kini dengan S2-nya, Yasser semakin mudah menjalani kegiatannya dikarenakan jurusan yang ia tekuni sangat berkesinambungan dengan usahanya kini.

“Jadi kalau dulu pas kuliah itu aku kan kayak ikut organisasi dan belum ada path-nya, belum ada jalurnya, jadi aku ikut ini itu. Cara ngaturnya ya dengan skala prioritas. Jujur biasanya sih aku ke organisasi aku cuma bisa hari apa aja. Cuma kalau sekarang itu udah beda.  Aku sesuain sama kebutuhan. Aku lagi butuh belajar bisnis karena aku lagi mau ngembangin si Matahari Kecil ini.  Jadi ini in line sama mimpi aku,” ujarnya.

Dalam meraih kesuksesan, pendidikan merupakan salah satu hal penting yang menentukan. Hal ini juga disampaikan oleh Yasser yang menganggap bahwa melalui pendidikan, seseorang akan terbentuk karakter serta intelegensinya yang tentunya akan berdampak pada kesuksesannya kelak.

baca juga: kisah inspiratif Wishnutama

“Menurut aku, balik lagi pendidikan itu kan dua tujuannya, intelegensi sama karakter. Lo bisa dapetin ini paling besar dari pendidikan. Karena pendidikan kan kayak lo dicemplungin ke satu wadah dimana wadah ini secara kondusif membentuk karakter lo dan intelegensi lo juga dibentuk. Wadah ini udah dibentuk gimana caranya lo ngeluarin ide lo, bener-bener belajar ada willingness to learn-nya harus tinggi. Makanya menurut aku pendidikan ini basic banget sih. Kalau karakter doang gak cukup. Karakter lo bagus tapi ketika udah dapat suatu masalah,  gimana cara nyelesainnya lo bingung, nah itu dibutuhkan intelegensi dan itu semua didapatkan dari pendidikan, ” ujar pebisnis yang kini juga bergabung di Ruang Guru tersebut.

Yasser juga memiliki pesan yang ingin disampaikan pada generasi muda Indonesia terkait kiat-kiat dalam meraih kesuksesan.

“Lo boleh banget sekolah tinggi dengan gaji besar boleh banget, sangat boleh bahkan, tapi jangan lupa juga lo kontribusi ke yang lain. Inget umur lo itu nggak ada yang bisa jamin sampe kapan. Tanya sama diri sendiri apa yang udah lo lakuin buat masyarakat sekitar, buat Indonesia,” ucapnya.

“Aku udah sukses kalau bisa ngasih manfaat dan berguna ke orang-orang,” tutup Yasser ketika ditanya mengenai standar kesuksesannya.


Kerja keras serta keteguhan seorang Yasser menunjukkan pada kita bahwa kesuksesan dapat diraih jika ada keinginan yang kuat. Menurutnya, anak muda memiliki peran penting dalam membangun Indonesia terutama melihat potensi jiwa sosial serta sukarelawan di Indonesia yang sangat tinggi. Yasser juga mengajarkan kita bahwa kesuksesan dapat diraih sembari memberikan kontribusi untuk negara. Tak perlu menunggu untuk sukses jika kita sudah memiliki keinginan untuk merubah bangsa Indonesia menjadi lebih baik lagi. Simak kisah inspiratif lainnya di Kinibisa!