span 1 span 2 span 2

Inspirasi

Munir Said Thalib: Ikon Penegakan HAM Indonesia
Oleh : Nanda Aulia Rachman
07 Mei 2018

Highlight

Membangun sebuah bangsa adalah membangun sebuah peradaban.

Munir
Munir Said Thalib, aktivis HAM.
Sumber: akurat.co

Tidak banyak orang yang mampu sevokal tokoh inspiratif yang Kinibisa angkat kali ini. Kebajikkan dan keberaniannya untuk membela kaum yang tertindas dan membenarkan yang salah merupakan salah satu kualitas terbaiknya. Simak kisah inspiratif Munir Said Thalib, aktivis HAM dan pendiri Kontras yang hingga saat ini kontribusinya masih melekat dan terasa nyata bersama Kinibisa!



"Pendidikan politik rakyat hanya akan berhasil dalam sistem yang demokratis dan adanya jaminan atas HAM."

Munir Said Thalib lahir di Malang, 8 Desember 1965. Tokoh yang biasa disapa Munir ini merupakan seorang aktivis HAM dan anti korupsi yang sangat dikenal di Indonesia. Selain karena jasa-jasanya membela hak-hak masyarakat, ia dikenal karena kasus pembunuhannya di tahun 2004 yang hingga kini belum usai diusut.

Munir di Masa Muda
 

Lelaki keturunan Arab dan Jawa ini mengenyam studi di Universitas Brawijaya, program studi Fakultas Hukum. Selama menjadi mahasiswa, ia sudah mulai terjun sebagai aktivis kampus. Munir pernah tercatat sebagai Ketua Senat Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Brawijaya pada tahun 1988, Koordinator Wilayah IV Asosiasi Mahasiswa Hukum Indonesia di tahun selanjutnya.  Selain aktif di kelompok studinya, Munir juga adalah seorang anggota dari Himpunan Mahasiswa Islam dan sekretariat Al-Irsyad cabang Malang di tahun 1988.

memperjuangkan kamu tertindas
Munir dikenal sebagai aktivis yang memperjuangkan kaum tertindas.
Sumber: jakartakita.com

Anak dari pasangan Said Thalib dan Jamilah mulai berkarir di bidang hukum dengan melakukan pembelaan pada sejumlah kasus, terutama yang berkaitan dengan kaum tertindas. Beberapa kasus yang pernah ia tangani[1]:

  • Kasus Araujo yang dituduh sebagai pemberontak melawan pemerintahan Indonesia untuk memerdekakan Timor timur dari Indonesia pada tahun 1992
  • Kasus Marsinah (seorang aktivis buruh) yang dibunuh oleh militer pada tahun 1994
  • Kasus pembunuhan petani-petani di Madura oleh militer pada tahun 1993
  • Kasus kerusuhan di PT.Chief Samsung, dengan tuduhan pada mahasiswa dan petani sebagai otak kerusuhan pada tahun 1995
  • Kasus Muhadi (sopir) yang dituduh melakukan penembakan terhadap seorang polisi di Madura pada 1994
  • Kasus Korban Penghilangan Orang secara paksa 24 aktivis politik dan mahasiswa di Jakarta pada tahun 1997 hingga 1998
  • Kasus pembantaian dalam tragedi Tanjung Priok 1984 hingga 1998
  • Kasus penembakan mahasiswa di Semanggi I (1998) dan Semanggi II (1999)
  • Penasehat hukum dan koordinator advokasi kasus- kasus pelanggaran berat HAM di Aceh, Papua, melalui Kontras. Termasuk beberapa kasus di wilayah Aceh dan Papua yang dihasilkan dari kebijakan operasi Militer.

Anak keenam dari tujuh bersaudara ini juga memiliki kepedulian di bidang advokasi perburuhan, pertanahan, lingkungan, gender dan berbagai bidang lainnya. Munir mendirikan berbagai organisasi. Salah satunya adalah Komisi Untuk Orang Hilang dan Tindak Kekerasan (KONTRAS).  Munir juga pernah dipercayai pemerintah untuk membantu Rancangan Undang-Undang (RUU).

baca juga: kisah inspiratif Faisal Basri

Munir merupakan individu yang kritis dan lantang menyuarakan aspirasinya. Goresan pena menjadi salah satu senjatanya. Dirinya aktif menulis tentang HAM, reformasi militer, kepolisian, politik dan perburuhan. Berkat pengabdiannya, ia dijatuhi banyak penghargaan semasa hidupnya, diantara lain;

  • Man Of The Year 1998Majalah Ummat
  • Pin Emas Universitas Brawijaya
  • Tokoh Terkenal Indonesia pada abad ke-20 Majalah Forum Keadilan 1999
  • Leader For The Millenium Asia Week 2000
  • The Right Livelihood Award 2000
  • Honourable Mention of The 2000 UNESCO Madanjeet Singh Prize
Misteri Pembunuhan Munir
 

misteri
Sebuah poster berisi kutipan mengenai perjuangan Munir.
Sumber : berdemokrasi.com

Hingga saat ini, tidak ada yang tahu persisnya bagaimana momen ini terjadi. Kejadian itu terjadi pada penerbangan GA-974 menuju Amsterdam, Belanda. Munir, saat itu, bertujuan pergi ke negeri kicir angin untuk menimba ilmu pascasarjana di Utrecth University di program studi Hukum Internasional. Munir yang menjabat sebagai Direktur Eksekutif Lembaga Pemantau HAM Indonesia Imparsial ini mengalami sakit perut dan berulang kali pergi ke toilet.

Kru pesawat dan penumpang yang berprofesi sebagai dokter memeriksa dan membantu Munir mengatasi sakitnya. Pukul 08.10 waktu setempat, dua jam sebelum melandas di Bandara Schipol Amsterdam, Munir dinyatakan meninggal dunia. Lima hari kemudian, tim forensik dari kepolisian Belanda menemukan jejak-jejak senyawa arsenik saat melakukan proses otopsi. Hasil yang sama ditemukan oleh kepolisian Indonesia.

Sepak terjang Munir, walaupun membawa keadilan dan kesetaraan bagi banyak orang, tidak disenangi oleh berbagai oknum yang mempunyai kepentingan dan kekuasaan di Indonesia. Munir diduga menenggak racun tersebut saat dirinya sedang transit di Singapura. Pollycarpus Budi Priyanto, pilot Garuda yang menghabiskan waktu bersama Munir dan menaiki pesawat yang sama dinyatakan bersalah dan dipidana selama 8 tahun.[2]

Tim Pencari Fakta Munir dibentuk untuk mencari fakta-fakta yang belum terungkap. Hal ini dikarenakan banyaknya fakta yang terkesan janggal, bungkamnya banyak saksi yang tadinya akan bersidang, dan lain-lain.[3]

Munir Bagi Masyarakat

istri munir
Suciwati Munir, istri Munir.
Sumber: tirto.id

Hingga saat ini, istri Munir, Suciwati, dan pendukung serta aktivis HAM masih berusaha untuk membawa keadilan bagi pihak-pihak yang terlibat. Kasus ini terus bergulir mulai dari pemerintahan presiden Indonesia saat itu, Susilo Bambang Yudhoyono (2004) sampai Joko Widodo.

Berbagai aksi dilakukan untuk Munir, seperti pembuatan museum Hak Asasi Manusia, Omah Munir, di Sidoarjo, Jawa Timur dan film dokumenter Bunga Dibakar yang membahas perjuangan dan sisi lain dari Munir. Hingga kini, aksi kamisan yang diadakan di depan istana setiap minggunya selalu menyerukan kebenaran dan pengungkapan kasus HAM. Munir Said Talib akan terus hidup bagi mereka dan telah menjadi simbol bagi penegakan HAM, baik di Indonesia maupun dunia.

Sosok Munir kini telah menjadi legenda dalam perjuangan Hak Asasi Manusia. Meski raganya telah tiada, semangatnya dalam menegakkan keadilan akan selalu terpatri dalam jiwa. Ia dapat menjadi contoh bagi tiap anak muda untuk berani bersikap dan berjuang tanpa rasa takut. Simak kisah tokoh inspiratif lainnya bersama Kinibisa!


[1] “Munir Said Thalib: Wikipedia bahasa Indonesia, Ensiklopedia Bebas” https://id.wikipedia.org/wiki/Munir_Said_Thalib (terakhir diperbaharui 31 Mei 2017)
[2] Rina Nurjanah; 6 Hal Luar Biasa Tentang Munir, Aktivis HAM http://citizen6.liputan6.com/read/2140492/6-hal-luar-biasa-tentang-munir-aktivis-ham (30 November 2014)
[3] Rusman Paraqbueq; Blakblakan Saksi Kunci Pembunuhan Munir https://m.tempo.co//read/news/2014/12/06/078626692/blakblakan-saksi-kunci-pembunuhan-munir (06 Desember 2014)