span 1 span 2 span 2

Inspirasi

Meiske Demitria Wahyu (SabangMerauke): Membangun Nilai Toleransi melalui Bhineka Tunggal Ika
Oleh : Halimah Nusyirwan
11 Desember 2018

Highlight

Makanya kita percaya toleransi nggak cukup cuma diajarin, toleransi itu harus dirasakan bahkan harus dialami.

Sosok Meiske Demitria Wahyu
Sosok Meiske Demitria Wahyu
Sumber:  Dok. Kinibisa

Berawal dari pengalaman pribadinya pada masa kerusuhan tahun 98 membuat Meiske menyadari bahwa ia tumbuh dengan prasangka pada orang-orang yang memiliki latar belakang berbeda dengannya. Dengan mengedepankan nilai toleransi bersama SabangMerauke, Meiske dan kawan-kawan SabangMerauke memiliki misi untuk menyadarkan masyarakat akan pentingnya nilai toleransi guna mencapai Indonesia yang damai, sesuai dengan motto bangsa Indonesia yaitu Bhineka Tunggal Ika. Seperti apa kisah Meiske bersama SabangMerauke? Simak kisahnya bersama Kinibisa!



"Jadi ketika kita diberi kebebasan, kita juga harus bertanggung jawab. Balancing itu lah yang harus selalu dilatih oleh anak muda."

Kehidupan Awal
 

Pengalamannya menghantarkan Meiske pada Sabang Merauke.
Pengalamannya menghantarkan Meiske pada SabangMerauke.
Sumber: Dok. Kinibisa

Meiske Demitria Wahyu, yang merupakan lulusan Ilmu Hukum dari Universitas Indonesia, ini adalah salah satu tim perumus dari organisasi SabangMerauke. Sebelum ia memutuskan untuk berkuliah di FH UI, Meiske mengaku tidak mengetahui ingin menjadi apa di masa depan. Ia memiliki berbagai ketertarikan di berbagai bidang, seperti musik, games, dan pelajaran Kimia.Pada awalnya Meiske ingin mengambil jurusan Biomarine atau Kimia. Akan tetapi, akhirnya ia menetapkan pilihan pada bidang musik karena kecintaan serta pengalaman dirinya sudah aktif di dunia musik sejak lama.

“Waktu SMA itu saya masih belum tahu banget apa yang mau di cari. Jadi cita-citanya sempet macem-macem. Pengen ambil jurusan Biomarine, sempet pengen bikin game karena dulu saya seneng main PS. Terus sempet tertarik juga belajar Kimia. Akhirnya pas mau kuliah itu lumayan cukup mantep untuk ambil jurusan Musik karena dari SMA udah lumayan aktif main musik juga. Terus juga sempet ngajar (musik) juga,” ujarnya.

Ketika mendaftar ke sekolah musik saat itu, Meiske mendapatkan half scholarship dari sekolahnya. Namun, biaya sekolah musik yang masih terlalu mahal saat itu baginya membuat Meiske harus berpindah haluan untuk kuliah di jurusan lain. Meskipun tumbuh dengan seorang ayah yang bekerja di bidang ekonomi, rupanya Meiske tidak tertarik untuk mengikuti jejak sang ayah dan memiliki kuliah jurusan Hukum karena kegemarannya dalam membaca.

“Saya bilang saya nggak kuat di Ekonomi. Akhirnya karena dari kecil saya seneng baca jadinya saya milih kuliah Hukum karena menurut saya kayaknya seru,” kata Meiske.

SabangMerauke
 

Sabang Merauke
SabangMerauke
Sumber: wordpress.com

Bergabungnya Meiske dengan organisasi SabangMerauke bermula ketika ia masih aktif berpartisipasi di komunitas Indonesia Mengajar. Kala itu Meiske yang baru saja pulang dari tugas mengajarnya, datang mendukung seniornya yang sedang mengikuti kompetisi yang diadakan oleh Pertamax dengan presentasi mengenai SabangMerauke ini. Program serta visi misi yang ditawarkan oleh SabangMerauke rupanya mirip dengan pengalamannya dulu sehingga membuatnya tertarik untuk bergabung yang akhirnya menjadikan Meiske sebagai salah satu Tim Penyusun dari organisasi ini.

“Saya tertarik banget buat bantu karena saya sangat relate. Jadi waktu saya seusia adik di SabangMerauke, yaitu kelas 2 SMP ya masih SMP gitu lah, nah saya mengalami kerusuhan 98. Sehingga saya tumbuh besar dengan banyak prasangka. Kemudian karena lingkungannya yang sangat homogen jadi tidak pernah properly berinteraksi dengan temen-temen yang beragam. Jadi saya tumbuh besar dengan prasangka. Padahal, pada saat saya berinteraksi di kuliah dengan teman-teman yang berbeda itu semua sangat wajar dan prasangka yang di kepala saya itu nggak terbukti,” kenang Meiske.

“Sehingga ketika saya mendengar presentasinya kak Ayu, saya merasa ini ada kesempatan untuk saya juga bisa berkontribusi dan at least ya nggak cuma sekedar mengkritik tapi juga berusaha, menawarkan kesempatan untuk adik-adik di Indonesia itu ya jangan tumbuh kayak saya tapi tumbuh dengan kebhinekaan,” lanjutnya.

SabangMerauke memiliki 3 (tiga) nilai yang menjadi poin utama dari pondasi dasarnya, yaitu toleransi, pendidikan, dan keindonesiaan. Ketiga hal ini saling berkesinambungan dan sangat penting untuk anak-anak bangsa karena banyak masalah yang terjadi kini terjadi akibat kurangnya kuat 3 nilai tersebut pada masyarakat Indonesia, khususnya pada isu toleransi. Visi misi dari SabangMerauke sendiri adalah untuk tidak ada lagi keberadaan organisasi ini kedepannya. Menurut Meiske, jika eksistensi SabangMerauke masih terus ada, maka hal itu berarti masih banyak masalah yang terjadi di Indonesia.

“Ada tiga nilai yang kita perjuangkan; toleransi, pendidikan, dan keindonesiaan. Nah itu sebetulnya satu circle yang berkesinambungan, tapi memang yang keluar itu lebih ke cerita toleransinya. Padahal kan sebenernya ketika orang berpendidikan itu juga akan lebih halus budinya. Kemudian juga orang yang tahu pendidikan akan lebih gampang untuk toleran dan akhirnya juga bisa punya kebanggaan akan Indonesia dan kebanggaan ini bukan semu, padahal yang penting adalah bagaimana dia bisa berbakti dan kasih sesuatu balik untuk negeri ini,” ungkapnya.

Dengan mengedepankan misi perdamaian di Indonesia, SabangMerauke memiliki berbagai program yang memperkenalkan anak-anak Indonesia untuk saling bertemu dengan teman-teman sebangsanya dari berbagai pelosok Indonesia agar mereka belajar pentingnya toleransi dan mengenal ragam masyarakat Indonesia yang dipenuhi berbagai perbedaan budaya lokalnya agar tidak merasa asing dengan bangsanya sendiri.

Program tahunan SabangMerauke adalah program pertukaran pelajar dalam negeri. Program ini dibentuk atas pengalaman para tim pendiri organisasi yang pernah mengalami menjadi minoritas dan pertukaran pelajar dulunya. Program ini bermaksud mengajarkan bahwa toleransi tidak cukup hanya diajarkan melalui teori, namun juga harus didukung dengan pengalaman langsung untuk merasakan nilai dari toleransi yang sebenarnya.

“Program tahunannya kita ada Pertukaran Pelajar. Jadi itu yang mendasari kenapa ada SabangMerauke karena semua pendirinya itu pernah ngalamin jadi minoritas dan pernah ikut pertukaran pelajar. Makanya kita percaya toleransi nggak cukup cuma diajarin, toleransi itu harus dirasakan bahkan harus dialami,” ujar Meiske.

Program lainnya adalah Diversity Dinner/Brunch. Program ini mengumpulkan berbagai komunitas serta tokoh penting, seperti tokoh-tokoh agama, untuk berkumpul makan bersama sembari “ngobrol” mengenai nilai toleransi yang mereka perjuangkan serta nilai kebhinekaan.  

“Intinya sih ini kita makan bersama. Kan kita orang Timur, kalau makan di meja makan ngobrol kan enak gitu. Nah jadi kita tuh ngumpulin beberapa pemimpin-pemimpin agama, baik yang diakui pemerintah maupun yang kepercayaan-kepercayaan. Kemudian kita juga ngumpulin komunitas-komunitas sosial. Kita juga ngumpulin beberapa temen aktivis yang difabel atau temen-temen yang juga bergerak di komunitas yang memperjuangkan nilai toleransi. Dan pada saat makan kita ngobrol tentang toleransi dan tentang kebhinekaan dan itu banyak cara(bercerita)nya” ujar Meiske.

Untuk menjadi volunteer di SabangMerauke memerlukan komitmen yang kuat. Programnya yang panjang dan memakan proses yang lama, mulai dari seleksi, mendampingi peserta, mengatur kurikulum, membuat desain, hingga program pertukaran pelajar selesai mengharuskan para relawan yang ingin bergabung untuk fokus dan mendedikasikan diri pada SabangMerauke. Relawan SabangMerauke sendiri juga beragam. Mulai dari yang paling muda yaitu kelas 3 SMP sampai orang-orang yang sudah bergelar S3.

Membangun organisasi ini tentu memiliki tantangan serta hambatan tersendiri. Tantangan terbesar terletak pada pendanaan serta kredibilitas. Menurut Meiske, organisasi yang didirikan oleh anak-anak muda ini awalnya harus melalui perjuangan yang tidak mudah untuk mendapatkan dukungan serta kepercayaan dari masyarakat. Dana yang harus dikeluarkan untuk program juga tidaklah sedikit sehingga muncul Lelang Kreatif dan Kenali Nusantara guna menjadi sumber pencarian dana bagi adik-adik peserta SabangMerauke.

“Kalau awal-awal tantangan pendanaan dan kredibilitas karena pada saat kita ngediriin, semuanya anak muda dan belum punya nama. Ya namanya juga cuma berbekal alumni pengajar muda gitu kali ya. Selain itu lebih ke nempel ke tempat kita bekerja,” ungkapnya.

Menjadi bagian dari organisasi ini juga memberikan berbagai pembelajaran berharga untuk seorang Meiske. Meskipun keadaan Indonesia seringkali semakin bermasalah pada isu toleransi. Akan tetapi, Meiske dan teman-teman SabangMerauke percaya bahwa dengan visi misi serta program yang mereka miliki sudah menaburkan benih pada penerus bangsa untuk kelak membuat Indonesia semakin lebih baik di masa depan.

“Ketika kemarin PILKADA kemudian efek-efek dari campaign yang kurang bijak juga itu isu SARA jadi boom! gitu. jadi ibaratnya ketika kita ngerjain (program SabangMerauke) makin ngaco nih. Tapi yang membuat kita semangat adalah karena kita tahu bahwa ini memang harus terus diperjuangkan. Sehingga walaupun keadaannya dan kesannya tidak tambah baik, kita percaya kita sudah menabur benih,” kata Meiske.

“Kita sudah menginvestasikan kepada adik-adik di berbagai titik di Indonesia sejak masa mudanya. Kalau reflect balik ke pengalaman saya percaya ketika interaksi itu terjadi dengan difasilitasi dengan baik, itu memang buahnya tidak bisa dipetik secara cepet. Tapi kita tetap menanamkan kebaikan dan terus istiqomah,” lanjutnya.

Pendidikan di Mata Meiske dan Pesannya untuk Generasi Muda
 

Pesan dan harapannya untuk anak muda Indonesia.
Pesan dan harapannya untuk anak muda Indonesia.
Sumber: Dok. Kinibisa

Pendidikan di mata Meiske sendiri menurutnya penting. Meskipun pendidikan tidak hanya terbatas pada pendidikan formal, pendidikan informal yang didapatkan di luar sekolah juga tidak kalah penting dalam menentukan kesuksesan seseorang.

“Pendidikan itu kan luas banget dan kita, orang kota, cenderung punya persepsi bahwa untuk bisa sukses kamu harus sekolah, kuliah di tempat yang bagus, kemudian kerja dan sebagainya. Tapi kalau ketika kita denger cerita-cerita dari adik-adik di berbagai titik Indonesia, gurunya, orang tuanya, saya pikir pendidikan itu lebih dari sekedar pendidikan formal,” cerita perempuan yang dulu bekerja di salah satu law firm di Jakarta ini.

Tak hanya SabangMerauke, melalui Kenali Nusantara yang kurang lebih merupakan komunitas traveling, perempuan yang hobi traveling ini mengatakan bahwa traveling membuka wawasan dan menjadikannya seseorang yang open-minded. Ia berharap dengan adanya SabangMerauke ini dapat membuat masyarakat nusantara in semakin dekat satu sama lainnya.

“Aku seneng traveling dan pada saat traveling itu biasanya kita lebih open-minded sehingga batasan-batasan yang kalau hal yang biasa aja sungkan, pada saat traveling itu lebih loose dan kita juga ingin menyemangati local champion yang juga bergerak dari lokal,” kata Meiske yang kini sedang mempersiapkan S2nya tersebut.

baca juga: kisah inspiratif Soe Hok Gie

Meiske juga menyampaikan pesannya untuk para generasi muda Indonesia. Ia berharap mereka dapat menjadi sukses yang kesuksesannya tidak hanya dinikmati sendiri, tapi juga orang-orang lain. Ia juga berharap anak-anak muda Indonesia dapat menggunakan kesempatan untuk speak up dengan masalah yang ada dan belajar saling menghargai perbedaan agar dapat bertoleransi dan hidup berdampingan dengan damai dan tentram.

“Menarik untuk menyikapi bagaimana kita anak muda dan generasi kita itu lebih punya kesempatan untuk speak up. Nah tapi di satu pihak tetep kemampuan untuk belajar respect, belajar menempatkan diri, itu adalah hal-hal yang penting banget untuk dikembangkan. Jadi ketika kita diberi kebebasan, kita juga harus bertanggung jawab. Balancing itu lah yang harus selalu dilatih oleh anak muda supaya ya jangan karena kita muda terus kita dianggap sepele. Tapi juga bukan karena kita anak muda, kita juga jadi kurang ajar,” tutupnya.


Sosok Meiske mengajarkan kita bahwa isu toleransi di Indonesia merupakan salah satu isu yang paling sering terjadi di Indonesia. Pengalamannya membuat Meiske menyadari nilai penting dari Bhineka Tunggal Ika yang seharusnya tidak hanya dipahami secara teori, namun juga dirasakan secara langsung guna mencapai Indonesia yang lebih damai lagi. Baca kisah inspiratif tokoh lainnya hanya di Kinibisa!