span 1 span 2 span 2

Jurnalistik

Cara Mengetahui Perbedaan Bentuk Berita
Oleh: Prabarini Kartika
Dibaca Normal: 4 menit

Cara mengetahui perbedaan bentuk berita
Sumber: wpuploads.appadvice.com

Dalam menuliskan suatu berita, jurnalis tidak melulu menuliskan fakta-fakta secara berurutan begitu saja. Menambahkan gaya penulisan dinilai penting sehingga berita yang disajikan menjadi lebih indah, dan mudah untuk dipahami oleh pembaca.

Dalam dunia jurnalisme terdapat tiga bentuk berita yang dikenal dikalangan para jurnalis, yaitu hard news, soft news, dan feature. Berikut ini adalah penjelasan ketiganya.

1. Hard News
 

hard news
Sumber: 2.bp.blogspot.com

Bentuk berita ini adalah untuk menyampaikan informasi atas kejadian yang baru saja terjadi dan harus disampaikan ke masyarakat secepat-cepatnya.

Topik-topik krusial seperti politik, hukum, ekonomi, dan isu nasional maupun internasional dianggap masuk ke dalam kategori hard news. Maka dari itu ciri utama dari hard news adalah bersifat timely atau memiliki rentang waktu. Maksudnya adalah jika terdapat peristiwa dan perusahaan media telat memberikan informasi, maka nilai dari berita itu akan basi dan sudah tidak relevan lagi.

Kemudian ciri lain dari hard news adalah struktur penulisannya adalah piramida terbalik, di mana unsur paling penting dari informasi yang disampaikan itu ditulis pada paragraf pembuka atau yang disebut sebagai lead. Paragraf-paragraf merupakan detail dari inti informasi tersebut.

Baca juga: Profesi Jurnalis

Media-media online di seluruh dunia saat ini mengejar kecepatan dan ketepatan, terutama untuk hard news. Contohnya, saat ada bom yang meledak di stadion Besiktas, Turki, para awak media yang bertempat di Indonesia pun sudah dapat mengetahui kabar tersebut berkat kecepatan penyajian media dari Turki, baik itu TV atau online.

2. Soft News
 

soft newsSumber: amazonaws.com

Bentuk berita ini lebih santai dan ringan ketimbang hard news. Sifat utama dari soft news adalah menarik, tapi juga ada unsur yang penting di dalamnya. Tujuan dari berita ini sendiri memang untuk menghibur pembacanya, berbeda dengan hard news yang menyajikan berita untuk mengetahui suatu peristiwa.

Seperti dengan namanya, soft news bisa lebih luwes dalam penggunaan bahasa dan struktur berita. Berita ringan ini bersifat timeless atau tidak ada rentang waktu tertentu. Berita ini dapat dibaca kapan saja dan isi kontennya masih tetap relevan. Soft news biasanya juga mengangkat topik-topik yang melihat aspek kemanusiaan (human interest).

Soft news sering ditemui pada topik-topik entertainment dan lifestyle. Tapi tidak menutup kemungkinan di dalam berita entertainment itu sendiri ada yang termasuk hard news karena berita tersebut bersifat timely. Contohnya Julia Perez berangkat umroh tanggal 2 Januari tapi baru diberitakan tanggal 4 Januari. Artinya berita tersebut sudah kadaluarsa dan tidak layak dipublikasikan lagi.

3. Feature
 

Tulisan feature adalah elaborasi dari soft news. Bentuk berita ini melihat sisi atau angle lain dari hard news dan soft news. Sama seperti soft news, feature juga melihat human interest dari suatu peristiwa. Feature ini bisa dijadikan suatu reportase dengan gaya bahasa yang lebih kreatif namun tetap mengedepankan faktual, walaupun tujuan utamanya adalah menjadi bahan bacaan ringan yang menghibur pembaca.

baca juga: Tips Mendapatkan Sumber Berita

Apabila hard news melihat suatu peristiwa secara umum, maka feature dapat mengerucut point of view terhadap peristiwa yang sama. Sebagai contoh pada saat aksi damai 212 atas tuntutan penistaan agama yang dilakukan oleh Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama, feature yang bisa diambil dari peristiwa besar ini bisa bermacam-macam.

 

featureSumber: tirto.id

Misalnya dari pandangan para penjual sorban yang ditemui di pinggir lapangan Monumen Nasional (Monas). Jurnalis bisa menggali informasi seperti motivasi apa yang mendorong mereka untuk lebih memilih berjualan daripada ikut aksi damai, lalu seberapa signifikan keuntungan yang didapat dari berjualan saat ada aksi daripada tidak, lalu apakah aksi damai tersebut memberikan dampak langsung terhadap mereka.

Dari data-data yang didapatkan dari lapangan, maka bentuk feature ini tidak boleh menyampingkan fakta. Feature bukan berarti dapat mengekspresikan opini dari si penulis. Bentuk berita ini adalah untuk menjernihkan pandangan-pandangan terhadap suatu peristiwa dari sisi yang tidak terlihat. Maka dari itu, ketajaman dari seorang jurnalis dibutuhkan untuk dapat menuliskan sebuah feature.

Jika kalian sering membaca berita, baik itu cetak maupun online, tanpa sadar kalian sudah memahami bagaimana membedakan bentuk-bentuk berita lho. Coba tantang dirimu untuk mengkategorikannya. Selamat mencoba!


Sumber Referensi

Ishwara, Luwi. (2005). Catatan-catatan Jurnalisme Dasar. Jakarta: Penerbit Buku Kompas.


0 Comments